BISNISMARKET.COM - Gusti Kanjeng Ratu Wandansari Koes Moertiyah atau yang akrab disapa Gusti Moeng merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Sebagai putri dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII, ia tumbuh dalam tradisi budaya Jawa yang kuat dan sejak lama dikenal sebagai penjaga adat serta sosok yang aktif memperjuangkan kelestarian nilai-nilai keraton.
Dalam perjalanan pendidikannya, Gusti Moeng menempuh studi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan melanjutkan pendalaman pada bidang lingkungan hidup. Pengalamannya tidak terbatas pada dunia budaya, karena ia juga pernah terjun ke politik sebagai anggota DPR RI periode 2009–2014.
Selama bertugas, ia ditempatkan di Komisi II yang membidangi pemerintahan daerah, otonomi daerah, Kementerian Dalam Negeri, Badan Pertanahan Nasional, serta Komisi Pemilihan Umum.
Di dalam keraton, Gusti Moeng kini menjabat sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), sebuah lembaga yang berperan mengawal adat dan struktur tradisi di lingkungan Keraton Surakarta. Posisi ini membuatnya berada di garis depan dalam berbagai dinamika internal keluarga besar keraton, terutama terkait tata kelola adat dan legitimasi tradisi.
Namanya kembali menjadi sorotan setelah pecahnya konflik internal antara kubu LDA dan kelompok Sasono Putro yang mengatasnamakan otoritas raja. Ketegangan memuncak ketika terjadi insiden pengusiran terhadap Gusti Moeng dan keluarganya oleh massa dari kubu lawan. Kejadian tersebut bahkan berujung pada bentrokan fisik di area Keraton Surakarta hingga menyebabkan sejumlah orang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Dalam kesaksiannya, ia mengaku bahwa sekelompok orang mendatangi kediamannya untuk memintanya keluar dari area keraton. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengganggu pihak mana pun dan hanya menjalankan tugas adat. Namun, ketegangan tetap terjadi, termasuk penutupan akses gerbang keraton hingga upaya pengusiran yang dilakukan berulang kali.
Konflik yang berkepanjangan ini juga dikhawatirkan berdampak pada kelestarian warisan budaya keraton, mengingat keraton merupakan pusat sejarah, seni, dan tradisi Jawa yang penting. Gusti Moeng, melalui posisi dan kiprahnya di LDA, terus menyuarakan pentingnya menjaga keraton dari kepentingan kelompok dan mengembalikan fungsi budaya keraton bagi masyarakat luas.
Sebagai salah satu figur sentral dalam dinamika Keraton Surakarta, ia kini berada di persimpangan antara mempertahankan adat, meredam konflik keluarga, dan melindungi warisan budaya yang telah turun-temurun diwariskan. Perannya yang kuat, pendirian yang tegas, serta pengaruhnya dalam struktur adat membuat Gusti Moeng tetap menjadi tokoh yang selalu diperhitungkan di tengah kisruh internal keraton.***