BISNISMARKET.COM - Fenomena olahraga ringan bernama slow jogging belakangan ini semakin populer dan banyak dibagikan di berbagai platform media sosial. Metode ini digadang-gadang sebagai pilihan olahraga yang sangat ramah bagi para pemula.
Meskipun dilakukan dengan ritme yang santai, slow jogging diklaim tetap ampuh dalam meningkatkan tingkat kebugaran tubuh secara keseluruhan. Keunggulannya terletak pada kemampuannya untuk diakses oleh berbagai kalangan tanpa menimbulkan beban berlebih.
Secara fundamental, slow jogging memprioritaskan kecepatan yang sangat nyaman. Kecepatannya bahkan hanya sedikit di atas kecepatan berjalan kaki, berkisar antara 3 hingga 5 kilometer per jam.
Saat menjalankan jenis lari santai ini, individu masih mampu melakukan percakapan tanpa mengalami kesulitan bernapas. Kemampuan ini dikenal sebagai metode "talk test" dan menjadi indikator utama dari intensitas slow jogging.
Berbeda dengan slow jogging, jogging biasa mensyaratkan intensitas yang lebih tinggi. Pada pelaksanaannya, napas cenderung terasa lebih berat dan denyut jantung meningkat secara signifikan.
Tubuh membutuhkan suplai energi yang lebih besar untuk dapat mempertahankan kecepatan lari yang lebih kencang dalam jogging konvensional. Hal ini menuntut kondisi fisik yang lebih prima.
"Slow jogging memprioritaskan kecepatan yang sangat nyaman, bahkan hanya sedikit di atas kecepatan berjalan kaki, yakni berkisar antara 3 hingga 5 kilometer per jam," demikian penjelasan mengenai metode ini.
"Saat menjalankan jenis lari ini, individu masih mampu melakukan percakapan tanpa mengalami kesulitan bernapas, yang dikenal dengan metode talk test," lanjut penjelasan tersebut.
Sementara itu, mengenai perbedaan dengan lari biasa, dijelaskan bahwa "jogging biasa mensyaratkan intensitas yang lebih tinggi."