JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda mendengar tentang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tiba-tiba ditutup? Sebuah kabar mengejutkan datang dari dunia pangan nasional, di mana ribuan unit SPPG dilaporkan ditutup sementara. Apa gerangan yang terjadi? Mengapa fasilitas yang seharusnya memenuhi kebutuhan gizi ini harus dihentikan operasionalnya? Mari kita selami lebih dalam alasan di balik penutupan massal ini yang diungkap langsung oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Sorotan Tajam Kepala BGN: Alasan Penutupan SPPG Terungkap!
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya angkat bicara mengenai penutupan sementara ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Per 30 Maret 2026, dari total 26.066 SPPG yang beroperasi, sebanyak 2.162 unit harus menghentikan layanannya. Angka ini terdiri dari penutupan sementara, penangguhan (suspend), hingga penutupan permanen.
"Yang pertama karena belum daftar Surat Laik Higiene Sanitasi [SLHS] ya. Kemudian ada juga yang sudah daftar SLHS tapi satu bulan tidak keluar," ungkap Dadan kepada awak media di Gedung Kemenko Pangan, Jakarta dilansir dari Bloomberg Technoz (5/4). Pernyataan ini membuka tabir alasan utama mengapa SPPG harus ditutup. SLHS, yang merupakan indikator kelayakan higienis dan sanitasi, menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tanpa dokumen ini, operasional SPPG dianggap belum memenuhi standar keamanan pangan.
Lebih dari Sekadar Dokumen: Urusan IPAL dan Kualitas Menu
Namun, alasan penutupan SPPG tidak berhenti pada belum terbitnya SLHS. Dadan menjelaskan bahwa penutupan sementara juga diberlakukan bagi SPPG yang secara operasional dinilai baik, namun belum memperoleh SLHS. Penangguhan ini akan terus berlangsung hingga dokumen tersebut diterbitkan.
Lebih lanjut, Dadan menyoroti pentingnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). "Kita minta mereka bikin IPAL dulu, jadi kita suspend mungkin seminggu dua minggu tergantung dari kecepatan pembangunan IPAL tersebut," tegasnya. Ketiadaan IPAL menjadi alasan krusial lain yang membuat SPPG harus ditutup sementara. Hal ini menunjukkan komitmen BGN untuk memastikan setiap unit SPPG tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga standar lingkungan yang berkelanjutan.
Tak hanya itu, selama bulan Ramadan, BGN juga menemukan adanya temuan terkait kualitas menu yang disajikan. Akibatnya, 62 SPPG turut disuspend karena menyajikan menu yang dianggap tidak sesuai dengan standar. Temuan ini bahkan sempat ramai menjadi perbincangan warganet di media sosial. "Selama Ramadhan kemarin kan ada 62 SPPG yang menghasilkan menu kurang sesuai. Nah, itu yang membuat rame media sosial. Nah, kita hentikan dulu supaya mereka memperbaiki diri," tutur Dadan.
Dampak dan Harapan: Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan