BISNISMARKET.COM - Insiden kecelakaan antara kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL komuter di Stasiun Bekasi Timur menjadi salah satu tragedi transportasi paling mengguncang tahun ini.
Sebanyak 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, setelah kereta jarak jauh tersebut menabrak rangkaian KRL yang tengah berhenti di jalur stasiun.
Di balik tragedi ini, terungkap rangkaian kejadian yang saling terkait, termasuk insiden awal berupa mobil listrik yang tertemper KRL, yang kemudian memicu gangguan beruntun hingga berujung fatal.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar, jika sistem persinyalan modern sudah diterapkan, mengapa kecelakaan seperti ini masih bisa terjadi?
Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Jonny Martinus, menilai bahwa secara prinsip, sistem yang digunakan di Indonesia sebenarnya telah dirancang dengan standar keselamatan tinggi.
Sistem yang dikenal sebagai absolute block system mengharuskan sinyal masuk ke suatu jalur menunjukkan warna merah apabila terdapat kereta lain di petak blok yang sama atau di depannya. Artinya, secara teori, kereta yang datang tidak boleh melanjutkan perjalanan dan wajib berhenti sebelum memasuki jalur yang sudah terisi.
“Jika sistem ini berjalan normal, tabrakan dari belakang seharusnya tidak terjadi,” ujarnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Kereta Argo Bromo Anggrek tetap dapat melaju hingga memasuki jalur stasiun dan menabrak KRL yang sudah berada di posisi berhenti. Hal ini menandakan adanya celah yang perlu ditelusuri lebih dalam, baik dari sisi teknis maupun operasional.
Secara teknis, sistem persinyalan elektrik yang digunakan saat ini bekerja otomatis. Ketika satu jalur terisi, sinyal akan langsung berubah menjadi merah sebagai tanda larangan masuk.