KUWAIT, BisnisMarket.com – Nama Syekh Mishary Rashid Alafasy telah lama menjadi standar emas dalam dunia resitasi Al-Qur'an. Suaranya yang merdu dan tenang menghiasi masjid, rumah, hingga aplikasi digital di seluruh dunia.
Namun, di balik popularitasnya sebagai "Qari Sejuta Umat," Alafasy kerap berada di pusat badai polemik akibat pernyataan politiknya yang dinilai kontroversial oleh sebagian kalangan Muslim.
Profil: Sang Ikon Resitasi Modern
Lahir di Kuwait pada 5 September 1976, Mishary bin Rashid Al-Afasy menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinah, spesialisasi dalam sepuluh qira'at dan tafsir Al-Qur'an. Ia tidak hanya dikenal sebagai imam, tetapi juga pionir saluran televisi islami (Alafasy TV) dan penyanyi nasyid sukses melalui karya seperti "Hasbi Rabbi" dan "Rahman".
Di tahun 2026 ini, pengaruh digitalnya tetap tak tertandingi dengan puluhan juta pengikut di platform media sosial, menjadikannya salah satu tokoh agama paling berpengaruh di abad ke-21.
Jejak Kontroversi: Sikap terhadap Barat dan Konflik Regional
Kontroversi yang melibatkan Alafasy seringkali berkaitan dengan dukungannya terhadap kebijakan penguasa tertentu dan sikapnya terhadap intervensi asing di Timur Tengah.
Dukungan terhadap Serangan Udara Barat (2018): Salah satu momen paling panas terjadi ketika Alafasy mengecam kelompok Hamas karena mengutuk serangan udara Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis terhadap rezim Assad di Suriah. Sikapnya yang seolah "sejalan" dengan tindakan militer Barat saat itu memicu kritik tajam dari aktivis yang menganggapnya terlalu memihak agenda politik luar negeri tertentu.
Relasi dengan Pemimpin Timur Tengah: Alafasy juga sering dikritik karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh kuat seperti Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan keluarga kerajaan Saudi. Bagi para pengkritiknya, pujian Alafasy dalam bentuk nasyid untuk para pemimpin ini dianggap sebagai upaya melegitimasi kebijakan yang kontroversial.