BISNISMARKET.COM - Wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII menandai babak baru bagi Keraton Kasunanan Surakarta. Di tengah masa bergabung, keluarga besar keraton dihadapkan pada keputusan paling krusial, menentukan siapa yang layak melanjutkan tampuk kepemimpinan sebagai Pakubuwono XIV. Dari sejumlah nama yang mengemuka, sosok yang kini berada di garis depan adalah putra tertua mendiang PB XIII, yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi

KGPH Hangabehi lahir di Surakarta pada 5 Februari 1985, sehingga kini berusia 40 tahun. Ia memiliki nama kecil Gusti Raden Mas Soeharto. Sejak muda, ia dibesarkan dalam lingkungan keraton yang kental dengan tradisi serta nilai-nilai paugeran.

Ayahnya adalah Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, sementara ibunya adalah Kanjeng Raden Ayu Winarni, yang dinikahi PB XIII sebelum dinobatkan sebagai raja. Pernikahan tersebut berakhir sebelum penobatan, namun posisi Hangabehi sebagai putra laki-laki tertua membuatnya memiliki kedudukan strategis dalam wacana suksesi.

Sebelum menyandang gelar Hangabehi, ia pernah memegang gelar KGPH Mangkubumi, salah satu jabatan penting dalam struktur keraton. Pada 24 Desember 2022, gelarnya diubah menjadi KGPH Hangabehi sebagai bagian dari penataan internal dalam keluarga keraton.


Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Ia menikah dengan Raden Ayu Siti Zubaidah. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai dua anak, Brajah Arumi Larasati Kusumaningrum danBendara Raden Masuryo Muhammad Ibrahim. Keluarganya dikenal hidup sederhana dan dekat dengan nilai-nilai budaya Jawa, serta aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan adat keraton.

Riwayat Pendidikan dan Minat Budaya
Hangabehi menempuh pendidikan dasar, menengah, hingga SMA di sekolah-sekolah lokal Surakarta, yaitu:
- SD Pamardi Siwi
- SMP Kasatrian
- SMA Warga Surakarta

Sejak muda, ia dikenal tekun, tenang, dan memiliki ketertarikan pada dunia budaya Jawa, khususnya dalam perkerisan. Sebagai pemerhati keris, ia aktif menghadiri kegiatan-kegiatan budaya baik di dalam maupun luar negeri. Pada September 2025, ia diundang pemerintah Belanda untuk menghadiri pameran keris, menunjukkan reputasinya di kalangan pecinta dan ahli tosan aji.

Peran di Museum Keraton dan Pelestarian Budaya
Salah satu tanggung jawab terbesar dirinya adalah perannya sebagai pengageng Museum Keraton Kasunanan Surakarta. Ia mengoordinasikan perawatan koleksi, supervisi revitalisasi bangunan, hingga menjaga agar museum tetap menjadi pusat edukasi publik.

Selama proyek revitalisasi yang digagas pemerintah, ia turut mengawal sejumlah pekerjaan penting, terutama:
- Revitalisasi panggung Songgo Buwono,
- Pemeliharaan artefak bersejarah yang membutuhkan penanganan khusus,
- Penguatan fungsi museum sebagai ruang pembelajaran budaya Jawa,