JAKARTA, BisnisMarket.com - Dunia maya adalah ruang peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, ia jadi sumber informasi, tempat berkreasi, dan pasar bisnis yang terus tumbuh. Di sisi lain, kehadiran anak-anak di dalamnya menimbulkan risiko yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ketika regulasi hadir untuk melindungi, apakah ini justru jadi batu ujian baru bagi keberlangsungan dan strategi bisnis perusahaan teknologi?

Tantangan Implementasi: Anak Cari Jalan Keluar

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau yang dikenal sebagai PP Tunas, yang bertujuan melindungi anak saat menggunakan sistem elektronik dan media sosial. Namun, di tengah niat baik itu, muncul hambatan yang tak terduga.

Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada 5 Juli, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengakui hal ini secara terus terang: “Ada satu survei yang menunjukkan kalau ada lima anak, tiga anak dipastikan memalsukan usianya untuk bisa masuk ke media sosial. Ini sudah umum terjadi.”

Fakta ini menjadi persoalan mendasar. Sistem pembatasan usia yang menjadi dasar peraturan ini seolah punya celah. Anak-anak dengan mudah memanipulasi data untuk bisa mengakses akun layanan yang sebenarnya belum boleh mereka gunakan.

Beban dan Tanggung Jawab Ada di Tangan Platform

Dalam struktur regulasi ini, tanggung jawab utama verifikasi usia diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing pengelola platform digital. Artinya, tidak cukup hanya dengan mencantumkan kolom tanggal lahir saat pendaftaran. Platform harus mengembangkan sistem yang lebih canggih untuk mendeteksi kebenaran data tersebut.

Nezar menjelaskan: “Kita sudah sampaikan kepada platform karena yang bisa meregulasi ini adalah platform dengan solusi teknologi yang mereka miliki. Namun, identifikasi usia juga harus tetap mematuhi prinsip pelindungan data pribadi.”

Dari sudut pandang ekonomi dan bisnis, ini berarti tambahan biaya operasional. Pengeluaran untuk pengembangan algoritma, peningkatan sistem keamanan, hingga pelatihan tim pengawas menjadi investasi baru yang harus dikeluarkan. Di tengah persaingan ketat, penambahan biaya ini bisa memengaruhi margin keuntungan perusahaan, terutama bagi platform yang masih dalam tahap pengembangan.