JAKARTA, BisnisMarket.com - Pasar energi dunia kembali bergolak menyusul keputusan penting dari kelompok produsen minyak terbesar. Setelah berbulan-bulan dibayangi risiko perang dan terhambatnya jalur distribusi utama, OPEC+ dikabarkan sepakat membuka lebih lebar keran produksinya. Langkah ini bukan sekadar penyesuaian biasa, melainkan tanda perubahan besar yang bisa langsung terasa pada harga minyak di pasaran global.

Persetujuan untuk Tambah Pasokan

Dilansir dari Bloomberg Technoz (5/7), kesepakatan awal telah dicapai untuk menaikkan kuota produksi secara bertahap mulai bulan Agustus mendatang. “Jika diratifikasi dalam konferensi video pada Minggu, tujuh negara besar yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia akan menambah 188.000 barel per hari ke target produksi mereka,” ungkap para delegasi yang terlibat dalam pembahasan tersebut.

Kenaikan ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang kelompok untuk mengakhiri pembatasan produksi yang diberlakukan sejak beberapa tahun lalu. Secara kumulatif, sejak ketegangan memuncak, total penambahan kuota telah mencapai 940.000 barel per hari, jumlah yang setara dengan hampir 1 persen dari total permintaan minyak dunia.

Dampak Perjanjian Damai dan Jalur Distribusi

Selama ini, rencana peningkatan produksi sering kali bersifat “teoritis saja” karena gangguan di jalur vital. “Kenaikan tersebut sejauh ini bersifat teoritis karena perang memblokir Selat Hormuz dan menghentikan negara-negara anggota Teluk Persia meningkatkan ekspor dan produksi mereka,” jelas laporan tersebut.

Namun, situasi berbalik arah setelah tercapainya perjanjian damai sementara antara AS dan Iran. Menurut data pelacakan kapal tanker, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sudah memulihkan pengiriman hingga mendekati level sebelum ketegangan terjadi. Pemulihan ini memicu masuknya pasokan tambahan ke pasar Asia, yang secara otomatis menghapus kenaikan harga yang sempat terjadi saat jalur perdagangan terputus.

Tantangan Persatuan dan Proyeksi Pasar

Di sisi lain, keputusan ini juga muncul di tengah gejolak internal. Kelompok OPEC+ saat ini menghadapi tantangan persatuan: Irak sempat mengancam akan keluar jika tidak mendapatkan jatah produksi lebih besar, sedangkan UEA sudah mengumumkan kepergiannya pada Mei lalu.