JAKARTA, BisnisMarket.com - Pasar saham Indonesia menunjukkan upaya pemulihan di penghujung pekan, namun perjuangan itu belum cukup untuk mengubah catatan akhir menjadi hijau. Meski sempat bangkit tajam, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG harus berakhir dengan catatan penurunan secara keseluruhan selama satu minggu terakhir.

Pergerakan IHSG Sepanjang Pekan

Perdagangan selama periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026 berlangsung sangat fluktuatif. Indeks sempat menyentuh titik terendah mingguan di angka 5.643 pada Selasa, 30 Juni 2026, sebelum perlahan bergerak naik kembali.

Pada penutupan akhir pekan, IHSG berhasil menguat sebesar 2,28 persen dan berada di level 5.875. Namun, jika dilihat secara akumulasi selama satu minggu, indeks utama Bursa Efek Indonesia ini tetap mencatatkan penurunan sebesar 0,35 persen.

Dilansir dari Bloomberg Technoz (4/7), “IHSG berupaya bangkit. Namun, upaya ini masih terjegal sejumlah saham hingga indeks masih ditutup di zona merah pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (3/7/2026).”

Saham yang Jadi Beban Utama

Tidak semua saham mendukung pergerakan naik tersebut. Beberapa emiten justru menjadi penghambat utama pemulihan IHSG maupun indeks LQ45.

Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) tercatat sebagai pemberat terbesar. Kontribusinya memangkas nilai IHSG sebesar 3,02 poin, sekaligus mengurangi bobot Indeks LQ45 sebanyak 0,56 poin. Selain itu, saham PT Matahari Department Store Tbk (AMRT) juga ikut membebani dengan pengurangan masing-masing sebesar 2,47 poin untuk IHSG dan 0,46 poin untuk LQ45.

Penggerak dan Kondisi Pasar