JAKARTA, BisnisMarket.com - Harga minyak global melanjutkan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyelesaikan putaran perundingan di Doha, Qatar. Perkembangan ini memicu optimisme pasar terkait potensi stabilitas pasokan minyak dari Timur Tengah.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, seperti dikutip dari Reuters, menyatakan bahwa pemulihan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menekan harga.
"Normalisasi arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terus menekan pergerakan harga seiring mulai mengalirnya kembali kapal tanker yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk. Peningkatan pasokan yang masuk ke pasar ini menjadi sentimen negatif bagi harga minyak dalam jangka pendek," ujar Staunovo.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengumumkan bahwa pertemuan lanjutan antara negosiator AS dan Iran akan dijadwalkan setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang diperkirakan berlangsung setelah 9 Juli.
Di sisi lain, dua sumber senior Iran mengungkapkan bahwa Teheran masih berambisi mengamankan legitimasi internasional atas kendali mutlaknya di Selat Hormuz, termasuk hak memungut tarif bagi kapal yang melintas, bahkan jika harus menempuh opsi militer.
Menyusul kesepakatan geopolitik antara AS dan Iran serta pemulihan lalu lintas tanker di Selat Hormuz, UBS langsung merevisi estimasi harga minyak mentah Brent. Bank tersebut menurunkan proyeksi harga Brent untuk kuartal III 2026 sebesar US$25 menjadi US$80 per barel. Proyeksi kuartal IV 2026 dipangkas US$10 menjadi US$80 per barel, sementara proyeksi harga Brent untuk tahun 2027 juga diturunkan US$10 menjadi US$75 per barel.
Di tengah sentimen ini, analis HSBC memperkirakan pasar minyak mampu menyerap kembali pasokan dari Timur Tengah secara bertahap melalui peningkatan persediaan. Hal ini juga didukung oleh berakhirnya periode pelepasan cadangan strategis minyak oleh International Energy Agency (IEA) pada Juli. HSBC menilai bahwa setelah kondisi kelebihan pasokan jangka pendek mereda, harga Brent berpotensi kembali bergerak menuju US$80 per barel atau lebih tinggi.
Sementara itu, sumber Reuters melaporkan bahwa negara-negara anggota OPEC+ kemungkinan akan menyepakati peningkatan target produksi minyak mulai Agustus dalam pertemuan yang dijadwalkan pada Minggu (5/7).
Di tengah dinamika pasar energi global, dilaporkan pula bahwa Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan pasukannya telah menyerang kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia, pada Kamis (2/7).