JAKARTA, BisnisMarket.com - Cadangan devisa Indonesia kembali tercatat menurun menjadi US$146,2 miliar pada April 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran: mengapa dana valuta asing dari hasil ekspor, tabungan warga, hingga investasi justru lebih banyak berputar di luar negeri? Jawabannya kini mulai terarah lewat rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).

PFII: Lebih dari Sekadar Tempat Masuknya Modal Asing

Dilansir dari Bloomberg Technoz (5/7), para pengamat ekonomi menilai keberhasilan PFII tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak modal asing yang masuk. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan:

“Selama dollar loop lebih banyak terjadi di luar negeri, likuiditas valas domestik akan tetap tipis dan nilai tukar menjadi lebih rentan terhadap gejolak global.”

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, yang mencatat bahwa negara berkembang dengan ekosistem dolar domestik yang lemah cenderung menghadapi tekanan nilai tukar yang lebih tajam saat terjadi guncangan ekonomi dunia. Di sisi lain, Korea Selatan telah membuktikan bahwa dengan mengembangkan Seoul sebagai pusat keuangan regional, mereka mampu menahan lebih banyak transaksi valuta asing tetap berlangsung di dalam negeri.

Membangun Ekosistem Dolar yang Berputar di Dalam Negeri

Saat ini, banyak transaksi keuangan besar milik eksportir, dana pensiun, hingga investor global masih dilakukan di pusat keuangan asing seperti Singapura, Hong Kong, London, atau New York. Akibatnya, manfaat ekonomi yang seharusnya dinikmati Indonesia menjadi terbatas.

“Selama ini kita terlalu fokus menarik modal masuk, tetapi kurang memperhatikan bagaimana modal tersebut tetap berputar di dalam negeri,” tambah Fakhrul.

Melalui RUU PFII yang ditargetkan disahkan pada 21 Juli 2026, pemerintah ingin menciptakan ruang khusus tempat penyimpanan dana, pembiayaan proyek, transaksi lindung nilai, dan perdagangan instrumen keuangan dapat dilakukan sepenuhnya dari Indonesia. Langkah ini juga mendukung pendanaan proyek-proyek strategis nasional, termasuk yang dikelola Danantara.