BISNISMARKET.COM - Pondok Pesantren Al-Khoziny, yang terletak di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Pesantren ini dikenal luas dengan sebutan Pesantren Buduran, mengambil nama dari wilayah tempatnya berdiri, dan memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari peran para ulama besar di masa lalu.
Ponpes Al-Khoziny menganut aliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan mengikuti tradisi pesantren salaf. Ciri khasnya adalah sistem pembelajaran kitab kuning klasik, pengajian rutin, serta pola pendidikan yang menekankan adab, akhlak, dan kedisiplinan santri kepada kiai. Meski berpola salaf, pesantren ini juga terbuka terhadap sistem pendidikan modern melalui lembaga formal yang berada di bawah naungannya.
Pesantren ini didirikan oleh KH Raden Khozin Khoiruddin, seorang ulama besar yang dikenal dengan sebutan Kiai Khozin Sepuh. Ia merupakan menantu KH Ya’qub, dan pernah menjadi pengasuh di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Jawa Timur.
Nama “Al-Khoziny” sendiri diambil dari nama sang pendiri sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu agama.
Berdasarkan penuturan para pengasuh, keberadaan pesantren ini diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1920, bahkan diyakini berdiri lebih awal, yakni antara 1915 hingga 1920 Masehi.
Perkiraan tersebut muncul dari kisah seorang santri pertama yang belajar di masa Kiai Khozin, yang kemudian diceritakan oleh keturunannya kepada pengasuh generasi sekarang. Dengan demikian, usia Pesantren Al-Khoziny kini telah melampaui satu abad.
Setelah masa KH Raden Khozin Khoiruddin, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh generasi berikutnya hingga kini diasuh oleh KHR Abdus Salam Mujib, yang merupakan pengasuh generasi ketiga sekaligus Rais PCNU Sidoarjo. Di bawah kepemimpinannya, Pesantren pesantren ini berkembang pesat dengan ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain pendidikan diniyah, pesantren ini juga menaungi lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, yaitu Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny. Melalui lembaga tersebut, pesantren ini berupaya menggabungkan nilai-nilai salafiyah dengan pendidikan modern tanpa mengubah karakter keislaman yang telah diwariskan para pendahulunya.
Ponpes ini memiliki hubungan kuat dengan jaringan ulama dan pesantren besar di Jawa Timur. Beberapa tokoh besar yang pernah menimba ilmu atau memiliki hubungan keilmuan dengan pesantren ini antara lain KH M. Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Usman Al-Ishaqi, dan KH As’ad Syamsul Arifin.
Hubungan tersebut memperkuat posisi Al-Khoziny sebagai bagian penting dari jaringan pesantren tradisional yang menjadi fondasi Nahdlatul Ulama (NU).