BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia mencatat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme tinggi mengenai kinerja penerimaan pajak sepanjang awal tahun 2026. Klaim ini didasarkan pada peningkatan yang terlihat baik dari sisi penerimaan bruto maupun neto.

Pertumbuhan kuat ini, menurut pandangan Purbaya, merupakan indikasi nyata dari perbaikan aktivitas ekonomi yang terjadi di berbagai sektor. Kenaikan penerimaan pajak ini menjadi cerminan langsung dari denyut nadi ekonomi nasional yang kembali menguat.

Secara spesifik, data menunjukkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, penerimaan pajak berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 20,7% secara tahunan (year on year/yoy). Angka fantastis ini berhasil membawa total penerimaan pajak mencapai Rp 394,8 miliar.

Sementara itu, penerimaan pajak secara bruto juga menunjukkan tren positif, yakni tumbuh sebesar 9,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini mengukuhkan pondasi penerimaan negara yang semakin solid.

Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa momentum ini sangat positif mengingat posisi tahun sebelumnya sempat mencatatkan angka negatif. "Hal ini menunjukkan kualitas penerimaan pajak konsisten dan basis solid, dari tahun lalu negatif," paparnya saat Rapat Kerja dengan Komisi XI pada 6 April 2026.

Pendorong utama lonjakan ini adalah kontribusi dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) beserta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Kedua pos ini menunjukkan pertumbuhan eksplosif yang signifikan.

"Artinya memang aktivitas ekonomi lebih sibuk dibandingkan periode yang sama tahun lalu," lanjut Purbaya menegaskan. Dilansir dari data Kementerian Keuangan, PPN dan PPnBM melonjak 57,7%, membukukan nilai fantastis Rp 155,6 triliun per Maret 2026.

Pertumbuhan terbesar kedua datang dari sektor Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi dan PPh Pasal 21, yang tumbuh sebesar 15,8% menjadi Rp 61,3 triliun pada Maret 2026. Pertumbuhan PPh ini dikaitkan erat dengan keberhasilan implementasi sistem Coretax.

Dari sisi sektoral, kontribusi besar juga datang dari sektor industri pengolahan yang menunjukkan pertumbuhan yang solid. Sektor ini menyumbang sebesar 21,3% dari total penerimaan, setara dengan Rp 84,2 triliun.