JAKARTA, BisnisMarket.com - Republik Islam Iran kini berada dalam pusaran transisi politik paling kritis sepanjang sejarah modernnya setelah kabar kematian Pemimpin Agung, Ayatollah Ali Khamenei, terkonfirmasi. Sebagai langkah darurat, ulama senior Alireza Arafi telah ditunjuk untuk memimpin struktur kepemimpinan interim guna menjaga stabilitas negara di tengah ancaman konflik yang meluas.
Penunjukan Arafi dianggap sebagai langkah strategis untuk mencegah terjadinya kekosongan kekuasaan yang dapat memicu ketidaksabilan sistem politik maupun agama di Teheran. Sosoknya bukan orang baru di lingkaran kekuasaan, mengingat perannya sebagai anggota Dewan Garda yang bertugas menyeleksi setiap kandidat pemilu dan undang-undang negara.
Sebagai tokoh berpengaruh, Alireza Arafi juga merupakan anggota Majelis Pakar yang memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih siapa penerus tetap Pemimpin Agung. Selain itu, ia memegang kendali atas Basij, organisasi paramiliter sukarelawan raksasa yang menjadi tulang punggung kekuatan domestik rezim konservatif Iran.
Kematian Khamenei yang dilaporkan akibat serangan udara bertarget telah menciptakan guncangan hebat pada struktur komando militer dan peradilan tertinggi negara tersebut. "Kepergian beliau menandai berakhirnya era kepemimpinan tunggal selama hampir empat dekade yang telah membentuk wajah politik Timur Tengah," ujar seorang analis politik internasional dikutip Sunday Guardian Live, Minggu (1/3/2026).
Dewan kepemimpinan sementara yang kini melibatkan Arafi bertujuan untuk mengirimkan sinyal kuat bahwa Iran memilih kesinambungan ideologi daripada perubahan mendadak. Ulama senior ini dianggap sebagai representasi dari kelompok konservatif yang sangat setia pada fondasi Revolusi Islam 1979 yang telah lama dipertahankan oleh mendiang Khamenei.
Berdasarkan aturan konstitusi Iran, dewan kepemimpinan interim yang terdiri dari presiden, kepala peradilan, dan ulama Dewan Garda harus segera mengambil alih otoritas tertinggi. Arafi mengisi posisi krusial sebagai perwakilan ulama dalam dewan tersebut untuk memastikan transisi berjalan sesuai dengan koridor hukum dan legitimasi agama.
Situasi keamanan di sekitar Teheran dilaporkan masih sangat mencekam seiring dengan sumpah pembalasan dendam yang diteriakkan oleh para petinggi militer Iran kepada pihak penyerang. Penunjukan pemimpin sementara ini sangat krusial agar Majelis Pakar dapat bekerja mengevaluasi kandidat permanen tanpa adanya intervensi atau perebutan kekuasaan internal.
Keterlibatan aktif Arafi dalam struktur ini membuktikan bahwa faksi konservatif masih mendominasi penuh seluruh lini kekuatan strategis di dalam pemerintahan Iran. Langkah ini juga dimaksudkan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa institusi Republik Islam tetap berdiri kokoh meski kehilangan sosok puncaknya secara mendadak.
Reaksi dunia internasional saat ini cenderung berhati-hati dalam menanggapi suksesi kilat yang menempatkan Arafi sebagai salah satu pemegang kunci kekuasaan sementara. Banyak pemerintah Barat yang mengamati dengan saksama apakah arah kebijakan luar negeri Iran, terutama terkait program nuklir, akan mengalami pergeseran di bawah kendali baru.