BISNISMARKET.COM - Ketegangan regional memuncak setelah Kuwait menjadi sasaran serangan militer yang dilancarkan oleh Iran. Serangan balasan ini dilaporkan merupakan respons Iran atas aksi militer yang sebelumnya dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam tersebut.
Data awal menunjukkan bahwa insiden brutal ini telah merenggut korban jiwa sebanyak 12 orang di wilayah Kuwait. Pemerintah Kuwait menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam serangan yang datang dari negara tetangga.
Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah, menyampaikan kecaman kerasnya dalam sebuah pidato resmi. Pernyataan ini merupakan respons langsung dari pucuk pimpinan Kuwait terhadap eskalasi kekerasan yang terjadi.
"Negara kita telah menjadi sasaran serangan brutal oleh negara Muslim tetangga, yang kita anggap sebagai teman, meskipun kita tidak mengizinkan penggunaan tanah, wilayah udara, atau pantai kita untuk tindakan militer apa pun terhadapnya, dan kita telah berulang kali memberi tahu mereka tentang hal ini melalui saluran diplomatik kita," kata Emir Kuwait, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah dalam pidato yang disiarkan televisi Kuwait, dilansir Al Arabiya, Selasa (10/3/2026).
Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Emir Kuwait dalam siaran televisi nasional negaranya. Peristiwa ini menandai peningkatan dramatis dalam hubungan diplomatik antara Kuwait dan Iran.
Penguasa Kuwait juga menekankan posisi keras negaranya terkait kedaulatan wilayah. Ini adalah kali pertama Emir berbicara secara terbuka sejak serangan Iran mulai dilancarkan pada 28 Februari lalu.
"Penguasa Kuwait juga menegaskan 'hak penuh dan inheren Kuwait untuk membela diri,'" ujarnya saat berbicara untuk pertama kalinya sejak serangan Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Penegasan tentang hak membela diri ini menunjukkan kesiapan Kuwait untuk mengambil langkah-langkah tegas demi melindungi kepentingan nasionalnya dari ancaman eksternal. Kuwait dilaporkan telah berupaya keras menyampaikan posisi netralitasnya melalui jalur diplomatik.
Sebelum serangan terjadi, Kuwait diklaim telah berulang kali memberikan peringatan kepada pihak terkait mengenai larangan penggunaan wilayahnya untuk operasi militer. Informasi ini disampaikan melalui jalur komunikasi resmi antarnegara.