JAKARTA, BisnisMarket.com – Kekayaan konglomerat Indonesia, Prajogo Pangestu, mengalami penurunan signifikan sepanjang awal tahun 2026. Total kekayaan pendiri Grup Barito tersebut menyusut sekitar US$13,4 miliar, setara dengan Rp237,2 triliun, dalam beberapa bulan terakhir.

Penurunan tajam ini dipicu oleh sentimen negatif pasar global, terutama setelah evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berujung pada aksi jual besar-besaran oleh investor di bursa saham.

Sejumlah saham unggulan Grup Barito menjadi sasaran utama tekanan pasar. Saham-saham tersebut meliputi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Harga ketiga emiten ini tercatat turun secara signifikan dalam waktu singkat akibat aksi jual investor.

Situasi semakin memburuk setelah MSCI mengumumkan penghapusan sejumlah emiten Grup Barito dari MSCI Global Standard Indexes pada pertengahan Mei 2026. Keputusan ini memberikan tekanan lanjutan terhadap harga saham terkait dan berdampak langsung pada nilai kekayaan Prajogo Pangestu. Dalam beberapa hari saja, nilai kekayaan konglomerat tersebut dilaporkan susut puluhan triliun rupiah akibat anjloknya kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan tersebut.

Akibat kemerosotan ini, posisi Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia sempat tergeser. Data terbaru menunjukkan bahwa posisi puncak kini diambil alih oleh Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources, diikuti oleh Robert Budi Hartono.

Sebelumnya, MSCI diketahui menyoroti isu terkait aturan free float saham dan transparansi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan konsultasi yang dirilis lembaga indeks global tersebut memicu kekhawatiran investor asing mengenai likuiditas dan struktur kepemilikan sejumlah emiten, terutama saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi, seperti beberapa emiten Grup Barito.

Meskipun demikian, para analis menilai dinamika pasar saham masih sangat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung pada sentimen global, kebijakan regulator, serta pergerakan investor institusi.