BISNIS MARKET - Isu mengenai potensi tenggelamnya DKI Jakarta, ibu kota negara Indonesia, pada tahun 2050 telah menjadi perhatian serius, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga dunia.
Berbagai laporan dari lembaga internasional dan penelitian dari para ahli dalam negeri menegaskan bahwa Jakarta adalah salah satu kota pesisir yang paling rentan menghadapi ancaman ini.
Prediksi bahwa Jakarta akan tenggelam bukanlah isu baru. Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna, menyebutkan bahwa ramalan ini sudah lama digaungkan oleh berbagai peneliti, bahkan sejak lama.
Berbagai kajian, termasuk dari konsultan risiko internasional seperti Verisk Maplecroft dan lembaga antariksa seperti NASA, memperkirakan bahwa potensi kenaikan air laut bisa mencapai wilayah strategis seperti Monas dan sekitarnya pada tahun 2045 atau 2050.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, bahkan sempat menyinggung isu ini pada tahun 2021, memperingatkan bahwa Jakarta mungkin harus memindahkan ibu kotanya dalam 10 tahun ke depan karena ancaman terendam air.
Para pengamat dan peneliti sepakat bahwa ancaman tenggelamnya Jakarta dipicu oleh dua faktor utama, yang satu bersifat lokal dan yang lainnya global:
1. Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) - Masalah Lokal
Ini adalah kontributor terbesar dan yang paling mengkhawatirkan. Laju penurunan muka tanah di beberapa wilayah Jakarta, khususnya Jakarta Utara, sangat cepat.
- Eksploitasi Air Tanah Berlebihan: Penarikan air tanah secara masif oleh masyarakat dan gedung-gedung bertingkat (perkantoran, pusat perbelanjaan) untuk kebutuhan sehari-hari menyebabkan lapisan akuifer di bawah tanah kosong, sehingga tanah di atasnya memadat dan turun.