TEHERAN, BisnisMarket.com – Stabilitas politik Republik Islam Iran berada di ambang ketidakpastian besar menyusul laporan medis yang menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, kini dalam kondisi tak sadarkan diri.

Menurut memo diplomatik yang bocor dan bersumber dari penilaian intelijen Amerika Serikat serta Israel, pria berusia 56 tahun tersebut sedang menjalani perawatan darurat di kota suci Qom.

Kabar ini mencuat setelah absennya Mojtaba dari hadapan publik sejak awal Maret, memicu spekulasi luas mengenai kemampuannya dalam menjalankan roda pemerintahan di tengah ketegangan perang yang kian memanas di Timur Tengah.

Kondisi Kritis Pasca-Serangan

Laporan dari harian Inggris The Times menyebutkan bahwa kondisi kesehatan Mojtaba memburuk akibat luka-luka serius yang dideritanya dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut sebelumnya telah menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, beserta anggota keluarga lainnya.

"Mojtaba Khamenei saat ini sedang dirawat di Qom dalam kondisi parah dan tidak mampu terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim," tulis laporan tersebut mengutip memo intelijen.

Meskipun media pemerintah Iran terus merilis pernyataan tertulis yang diklaim berasal darinya, ketiadaan bukti video atau audio otentik memperkuat dugaan bahwa sang pemimpin sedang dalam keadaan tidak berdaya atau koma.

Bantahan dan Klaim Pemulihan

Di tengah laporan tersebut, pihak berwenang Iran memberikan keterangan yang kontradiktif. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam sebuah wawancara baru-baru ini sempat mengakui bahwa Mojtaba memang terluka akibat serangan musuh terhadap kantor Pemimpin Agung. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi Mojtaba kini telah pulih dan sehat untuk memimpin negara.