TEHERAN, BisnisMarket.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan kontroversial di tengah ketegangan perang yang kian memanas.

Teheran mengumumkan bahwa mereka akan mengizinkan kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz dengan aman, namun dengan satu syarat diplomatik yang sangat berat: negara asal kapal tersebut harus mengusir Duta Besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.

Pengumuman yang disiarkan melalui televisi negara IRIB pada Selasa (10/3/2026) ini menandai babak baru dalam perang asimetris Iran melawan koalisi pimpinan AS. Jalur sempit yang menjadi urat nadi energi dunia tersebut kini praktis dijadikan instrumen daya tawar politik oleh Teheran.

Syarat untuk Kebebasan Navigasi

Pihak militer Iran menegaskan bahwa mulai Selasa ini, negara-negara Arab maupun Eropa akan diberikan "wewenang dan kebebasan penuh" untuk melewati selat tersebut jika mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Washington dan Tel Aviv.

Saat ini, Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan lalu lintas hingga 90%. Hanya kapal-kapal yang berafiliasi dengan sekutu dekat Iran, seperti Rusia dan China, yang dilaporkan masih bisa melintas dengan relatif aman. Banyak kapal tanker lain terpaksa mengubah data pelacakan (AIS) mereka dengan identitas "Pemilik China" demi menghindari serangan.

Dampak Global: Harga Minyak dan Ancaman Trump

Kondisi ini telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar global. Harga minyak mentah dunia sempat meroket hingga melampaui $115 per barel pada awal pekan ini karena kekhawatiran akan terhentinya pasokan energi global. Sebagai catatan, Selat Hormuz bertanggung jawab atas transit sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia.

Merespons gertakan Iran, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras melalui media sosial: