Bisnismarket.com- Kementerian Agama atau Kemenag RI saat ini tengah masif melakukan sosialisasi terkait dengan kurikulum baru yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Cinta atau KBC.

Adapun Kurikulum Berbasis Cinta atau KBC yang digagas oleh Kemenag RI ini disebut sebagai upaya mewujudkan lima dimensi religiusitas di lingkungan pendidikan keagamaan di Indonesia.

Terkait dengan fokus dari Kurikulum Berbasis Cinta ini dijelaskan oleh
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Nyayu Khodijah.

Menurut Nyayu Khodijah, yang dimaksud dengan lima dimensi tersebut meliputi keimanan, pengetahuan, penghayatan, peribadatan, dan pengamalan.

"Selama ini yang kita lihat guru agama kita dari kelima hal ini yang masih sedikit sekali tersentuh adalah aspek penghayatan," ungkap Nyayu dalam Dialog dari Hati: KBC beberapa waktu lalu.

Menurut Direktur KSKK ini, dimensi penghayatan sangat penting dan tidak bisa diabaikan. 

"Tidak optimalnya pendalaman aspek ini menyebabkan pembelajaran agama belum berhasil secara maksimal. "Nah, KBC ini fokusnya ke semua dimensi," tegasnya.

Karena selama ini, kurikulum yang digunakan di Indonesia masih fokus pada aspek kognitif saja, belum maksimal pada aspek afektif sesuai dengan Taksonomi Bloom 

"Kegagalan dunia pendidikan itu karena memang tidak menyentuh aspek afektif. Padahal itu aspek yang sangat penting," tambahnya.