JAKARTA, BisnisMarket.com -
Pagi hari penuh harapan, sore berakhir kekecewaan. Begitulah gambaran
pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu ini, yang sempat dibuka
menguat namun akhirnya terperosok ke zona merah sepanjang sesi perdagangan. Di
tengah peta bursa Asia yang berwarna-warni, pergerakan IHSG menjadi cerminan
nyata ketidakpastian pasar yang dipicu isu global besar: kesepakatan damai
Amerika Serikat dan Iran, serta arah kebijakan bank sentral AS yang baru.
Dilansir dari Bloomberg Technoz (17/6), IHSG menutup
perdagangan di angka 6.220, turun sebanyak 0,55 persen dibandingkan posisi
penutupan hari sebelumnya. Sepanjang hari, indeks utama pasar modal Indonesia
ini bergerak dalam rentang luas, menyentuh level tertinggi di 6.377 dan jatuh
ke titik terendah di 6.179. Tekanan jual yang semakin deras menjadi alasan
utama indeks tak mampu bertahan di wilayah positif, meski sempat menunjukkan
sinyal penguatan di awal sesi.
Transaksi Meninggi, Sektor Tertentu Jadi
Beban
Aktivitas perdagangan terlihat sangat ramai. Total
nilai transaksi mencapai Rp24,7 triliun, dengan 34,1 miliar lembar saham
berpindah tangan dalam 2,37 juta kali frekuensi perdagangan. Angka ini
menunjukkan likuiditas pasar masih sangat tinggi, meski sentimen negatif
mendominasi arah pergerakan harga.
Pelemahan ini utamanya dipicu oleh kinerja buruk dari
sektor-sektor utama. Saham perindustrian tercatat melemah 2,52 persen, disusul
sektor transportasi turun 2,37 persen, dan sektor energi merosot 1,99 persen.
Ketiga sektor ini menjadi pemberat terbesar yang menyeret IHSG turun, seiring
penurunan tajam harga minyak dunia yang mengubah prospek keuntungan
perusahaan-perusahaan terkait komoditas dan jasa pendukungnya.
Namun, di tengah laju indeks yang merah, masih ada
harapan dari sejumlah emiten yang justru mencetak keuntungan luar biasa. Saham
PT Bank J Trust Indonesia Tbk (BCIC) melesat hingga 35 persen menjadi pemenang
terbesar, diikuti PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) naik 30 persen, dan PT
Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) menguat 28,8 persen. Sebaliknya, saham yang
paling terpuruk antara lain PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) turun
9,82 persen, PT Bank INA Tbk (BINA) anjlok 9,81 persen, dan PT Nusantara
Almazia Tbk (NZIA) melemah 9,68 persen.
Peta Bursa Asia Berwarna-warni
Pergerakan IHSG sejalan dengan suasana bursa Asia yang
beragam. Sebagian besar pasar saham di kawasan bergerak bervariasi, ada yang
ikut tertekan namun tak sedikit yang justru mencatatkan penguatan mengesankan.
Bursa yang ikut terjerembab antara lain Indeks PSEI
Filipina turun 2,11 persen, Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,74 persen,
Indeks Ho Chi Minh Vietnam turun 0,1 persen, dan Indeks SETI Thailand turun
tipis 0,06 persen. Sementara itu, sisi sebaliknya ditunjukkan oleh Indeks KOSPI
Korea Selatan yang melesat 1,58 persen, KOSDAQ naik 1,31 persen, Indeks Straits
Times Singapura menguat 1,16 persen, serta sejumlah indeks Tiongkok dan Jepang
yang juga bergerak di zona hijau.