JAKARTA, BisnisMarket.com -
Di balik kemajuan teknologi yang membuka peluang bisnis tak terbatas,
tersembunyi ancaman yang perlahan namun pasti menggerogoti tatanan ekonomi
masyarakat. Bayangkan, ratusan juta orang yang kini terhubung ke jaringan
internet setiap harinya, tidak hanya mendapatkan manfaat informasi dan
transaksi, namun juga berisiko terpapar konten yang berbahaya dan merugikan.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar ponsel dan perangkat kita? Dan
bagaimana hal ini berdampak langsung pada kantong kita serta iklim usaha di
Indonesia?
Konten Judol: Masalah Nomor Satu di Dunia
Maya
Berdasarkan temuan terbaru yang dilansir dari
Bloomberg Technoz diakses pada 16/6/2026, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) menyatakan bahwa konten judi online atau yang akrab disapa
judol menjadi jenis konten negatif yang paling banyak ditemui pengguna internet
di media sosial sepanjang tahun 2026. Angka yang tercatat dalam Survei
Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Indonesia 2026 cukup mengkhawatirkan:
"sebanyak 8,9 persen responden mengaku pernah terpapar konten judol saat
menggunakan internet."
Angka ini mungkin terlihat kecil, namun jika dikalikan
dengan jumlah pengguna internet Indonesia yang telah mencapai ratusan juta
jiwa, artinya jutaan warga negara berpotensi pernah melihat, membaca, atau
bahkan berinteraksi dengan promosi, iklan, maupun konten yang berkaitan dengan
aktivitas judol. Di sisi lain, data yang sama juga mencatat bahwa
"sebanyak 70,7 persen responden mengaku tidak pernah terpapar konten
negatif di media sosial." Namun, fakta bahwa hampir 3 dari 10 pengguna
atau setara 29,3 persen lainnya pernah menemukan berbagai bentuk konten
berbahaya, menjadi sinyal peringatan keras yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Dampak Nyata bagi Ekonomi Masyarakat
Dari sudut pandang ekonomi, paparan terhadap konten
judol bukan sekadar masalah etika atau hukum semata, melainkan ancaman serius
bagi kestabilan keuangan individu dan rumah tangga. Judol bekerja dengan
memanfaatkan celah psikologis manusia, menawarkan iming-iming keuntungan besar
dengan cara instan. Ketika seseorang tergoda dan terjerat, arus keuangan
pribadi yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan pokok, pendidikan,
kesehatan, atau bahkan modal usaha, justru tersedot habis ke dalam sistem yang
tidak jelas asal-usulnya dan tidak memberikan manfaat ekonomi nyata bagi
negara.
Uang yang beredar dalam aktivitas ini tidak masuk ke
dalam siklus ekonomi resmi, tidak membayar pajak, dan tidak menciptakan
lapangan kerja yang sah. Akibatnya, daya beli masyarakat melemah, tabungan
habis, dan beban sosial ekonomi negara semakin bertambah karena banyak warga
yang jatuh ke dalam masalah utang dan kemiskinan. Inilah dampak berantai yang
berbahaya: apa yang terlihat sebagai hiburan atau peluang cepat, ternyata
adalah perangkap yang merusak fondasi ekonomi keluarga.
Tantangan Besar bagi Dunia Bisnis
Bagi pelaku usaha dan dunia bisnis secara umum,
maraknya konten judol membawa risiko ganda. Pertama, risiko reputasi dan
kepercayaan publik. Seringkali iklan judol tersebar bersamaan dengan
konten-konten resmi atau memanfaatkan platform yang sama dengan bisnis sah,
sehingga menciptakan suasana ruang digital yang kotor dan tidak aman. Hal ini
membuat konsumen menjadi lebih waspada dan curiga terhadap transaksi digital
apa pun, yang pada akhirnya mengganggu pertumbuhan bisnis daring yang legal dan
bermanfaat.