JAKARTA, BisnisMarket.com - Kenaikan harga Pertamax yang terjadi sejak 10 Juni 2026 memicu pergeseran besar dalam perilaku konsumen bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Langkah ini bukan sekadar mengubah kebiasaan mengisi bahan bakar, tetapi juga berpotensi mengguncang peta ekonomi dan tata kelola subsidi energi yang selama ini dijalankan pemerintah. Sejumlah pengamat bahkan menyoroti risiko kebocoran subsidi yang makin terbuka lebar jika aturan pembelian tidak ditegakkan dengan ketat di lapangan.

Prediksi Pergeseran Konsumen

Dilansir dari Bloomberg Technoz (15/6), pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memproyeksikan sekitar 16 persen hingga 23 persen konsumen Pertamax — bensin nonsubsidi dengan oktan 92 — akan beralih menggunakan Pertalite yang mendapatkan dukungan subsidi negara. Angka ini didasarkan pada pola yang tercatat saat kenaikan harga pada tahun 2022 lalu, di mana pergeseran konsumen terjadi cukup signifikan seiring perubahan struktur harga.

“Berdasarkan pengalaman, saat kenaikan pada 2022, ada potensi migrasi 16 persen—23 persen dari pembeli Pertamax ke Pertalite jika MyPertamina ditegakkan ketat,” ungkap Yayan.

Pengawasan Jadi Penentu Utama

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa persentase tersebut baru berlaku jika sistem pengawasan berbasis data digital melalui aplikasi MyPertamina dijalankan secara konsisten dan ketat. Namun, realitas di lapangan bisa sangat berbeda. Jika pengawasan lemah atau penegakan aturan kendur, angka perpindahan konsumen bisa melonjak jauh di atas perkiraan awal.

“Kira-kira satu dari lima pembeli Pertamax bahkan bisa satu dari empat jika aturan pembelian tidak ditegakkan maka akan pindah ke Pertalite bersubsidi,” tambahnya. Dalam skenario terburuk, tingkat migrasi bisa menyentuh angka 20 persen hingga 26 persen, sebuah angka yang cukup besar dan membawa konsekuensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan.

Beban Anggaran Negara Meningkat

Dari sudut pandang ekonomi, fenomena ini memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, perpindahan konsumen dari produk nonsubsidi ke produk bersubsidi berarti beban keuangan negara akan makin berat. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), setiap tahun pemerintah mengalokasikan puluhan triliun rupiah untuk subsidi BBM agar harga tetap terjangkau masyarakat. Semakin banyak kendaraan yang menggunakan Pertalite yang sebenarnya ditujukan bagi golongan masyarakat berpenghasilan rendah atau kendaraan umum, maka semakin besar dana subsidi yang harus dikeluarkan dari kas negara.