JAKARTA, BisnisMarket.com -
Di tengah sorotan tajam yang muncul lewat sebuah film bertajuk Pesta Babi,
pertanyaan besar menggantung di udara: apakah proyek pangan strategis di Papua
Selatan benar-benar merugikan warga, atau justru menjadi kunci kehidupan bagi
bangsa ini ke depan? Isu ini memicu perdebatan hangat, hingga akhirnya Menteri
Pertanian Andi Amran Sulaiman angkat bicara dan memberikan penjelasan tegas
yang membuka mata banyak pihak.
Dilansir dari Bloomberg Technoz (14/6), Andi Amran
Sulaiman menegaskan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan pangan
di wilayah tersebut disusun bukan untuk merugikan, melainkan sebagai upaya
negara memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengangkat taraf hidup
masyarakat setempat. Di balik proyek ini, ada perhitungan besar terkait masa
depan ketersediaan makanan seluruh rakyat Indonesia.
Tantangan Besar Pertumbuhan Penduduk
Salah satu alasan utama yang mendasari program ini
adalah laju pertumbuhan penduduk yang terus bergerak naik setiap tahunnya. Data
menunjukkan jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 3,5 juta hingga 4 juta
jiwa setiap tahunnya, dan hal ini menuntut persiapan serius agar tidak terjadi
krisis pangan di masa mendatang.
“Kalau tidak ditambah, tidak ada PSN untuk padi, sagu,
ubi, sementara penduduk bertambah 3,5 juta sampai 4 juta orang per tahun,
pangannya dari mana? Kelaparan tidak? Ini kita bangun untuk keberlanjutan
Republik Indonesia karena penduduk tidak mungkin tidak bertambah,” ujar Amran
dalam siaran pers resmi.
Kalimat tegas ini menjadi jawaban atas berbagai
keraguan yang beredar. Menurutnya, pembangunan pusat produksi pangan baru
adalah keharusan, bukan sekadar pilihan. Tanpa perluasan dan pengembangan lahan
produktif, kebutuhan pangan jutaan orang yang terus bertambah tidak akan mampu
terpenuhi, dan risiko kelaparan bisa mengancam.
Potensi Lokal Papua: Lebih dari Sekadar
Padi
Banyak yang mengira program ini hanya berfokus pada
tanaman pangan umum seperti padi, namun kenyataannya jauh lebih luas dan
menyesuaikan dengan kekayaan alam setempat. Pengembangan pangan di Papua
Selatan menjadi bagian dari strategi nasional untuk menciptakan pusat-pusat
produksi baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, tidak hanya terpusat
di Pulau Jawa saja.
Amran menjelaskan, pemerintah juga sangat mendorong
pengembangan komoditas asli dan lokal seperti sagu dan ubi. Kedua jenis tanaman
ini sudah lama menjadi sumber pangan utama bagi masyarakat Papua, sehingga
pengembangannya akan sangat selaras dengan kebiasaan dan kearifan lokal yang
ada. Dengan cara ini, program tidak hanya menanam apa yang dibutuhkan nasional,
tetapi juga memelihara dan mengembangkan apa yang sudah menjadi kekayaan asli
tanah Papua.