JAKARTA, BisnisMarket.com -
Baru saja harga Pertamax disesuaikan menjadi Rp16.250 per liter di Jakarta,
banyak yang bertanya-tanya: kenapa harus naik? Apakah ini akan berlanjut ke BBM
lain? Dan seberapa mahal sebenarnya dibandingkan negara tetangga? Jawabannya
ternyata lebih mengejutkan dari dugaan banyak orang.
Dilansir dari Bloomberg Technoz (13/6), Sekretaris
Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya buka suara lengkap soal kebijakan ini,
sekaligus menegaskan satu hal penting yang membuat kita bisa bernapas lega.
Alasan Utama: Ikuti Harga Minyak Dunia
Seskab Teddy menjelaskan, Pertamax masuk kategori BBM
nonsubsidi, jadi aturannya jelas: harganya harus mengikuti pergerakan harga
minyak dunia. “Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah
sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan,” tegasnya dalam unggahan resmi
Sekretariat Kabinet.
Kenaikan harga terjadi akibat ketegangan geopolitik di
Timur Tengah yang membuat harga minyak bergejolak. Namun ada kabar baik: pekan
ini harga Minyak West Texas Intermediate turun hampir 3 persen ke level US$85
per barel, dan Brent mendekati US$90 atau sekitar Rp1.600.137. Penurunan ini
terjadi setelah Presiden AS Donald Trump sebut kesepakatan damai dengan Iran
bisa ditandatangani akhir pekan ini. Artinya, ada peluang harga kembali stabil.
Kabar Paling Penting: Pertalite dan Solar Tetap
Sama!
Jangan khawatir bagi pengguna kendaraan umum atau
masyarakat yang mengandalkan BBM subsidi. Seskab Teddy menegaskan tegas: “Harga
BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tidak naik sama sekali.”
Pemerintah sengaja memisahkan kebijakan ini agar beban
masyarakat luas tidak bertambah. Hanya jenis nonsubsidi seperti Pertamax yang
disesuaikan, karena memang tidak ditanggung anggaran negara. Ini bukti
kebijakan tetap berpihak pada daya beli rakyat banyak.
Fakta Mengejutkan: Masih Termurah di
ASEAN!