JAKARTA, BisnisMarket.com - Sebuah peristiwa mengejutkan yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada Kamis (12/3/2026) malam silam, kini diselimuti misteri yang kian pekat. Insiden penyerangan menggunakan air keras yang terjadi di Jalan Salemba I-Talang, Senen, Jakarta Pusat, ini tidak hanya meninggalkan luka fisik pada korban, tetapi juga menimbulkan kegaduhan publik akibat perbedaan informasi mengenai identitas pelaku yang dirilis oleh dua institusi penegak hukum: Polda Metro Jaya dan Pusat Polisi Militer (Puspom) Mabes TNI. Perbedaan ini sontak memicu spekulasi dan pertanyaan besar di masyarakat: siapa sebenarnya pelaku di balik aksi brutal ini, dan mengapa ada perbedaan informasi yang begitu signifikan?
Kronologi Mencekam di Malam Hari
Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 23.37 WIB. Saat itu, Andrie Yunus tengah mengendarai sepeda motornya, ketika dua orang pelaku yang mengendarai sepeda motor, diduga berjenis Honda Beat keluaran tahun 2016 hingga 2021, menghampirinya dari arah berlawanan. Pelaku yang mengemudikan motor mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap berbahan jeans, dan helm hitam. Sementara itu, rekannya yang duduk di belakang memakai masker menyerupai buff hitam, kaus biru tua, serta celana panjang biru yang dilipat pendek. Tanpa basa-basi, salah satu pelaku langsung menyiramkan air keras ke arah Andrie Yunus, mengenai tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta matanya. Luka bakar yang diderita korban cukup serius, menimbulkan kekhawatiran mendalam akan kondisi kesehatannya.
Dua Versi Identitas Pelaku: Polisi vs TNI
Ketegangan publik semakin memuncak ketika Polda Metro Jaya dan Puspom TNI merilis identitas pelaku yang berbeda. Polda Metro Jaya, berdasarkan rekaman CCTV, mengungkapkan dua inisial pelaku yang diduga sebagai eksekutor, yaitu BHC dan MAK. Namun, Puspom TNI memberikan informasi yang berbeda, menyebutkan ada empat pelaku yang merupakan anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. Keempatnya adalah Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES. Perbedaan ini menimbulkan tanda tanya besar di benak publik dan media.

Ketua Kompolnas Choirul Anam saat di Mapolda Metro Jaya pada Rabu, 18 Maret 2026. (Foto KOMPAS.Com/Hanifah Salsabila)
Respons Kompolnas dan Upaya Kolaborasi
Menanggapi perbedaan identitas ini, Ketua Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Choirul Anam, memberikan pandangan yang menarik. Saat ditanya wartawan, Anam tidak memberikan jawaban lugas, namun justru menilai kepolisian telah bertindak objektif dengan mendasarkan penyidikan pada rekaman CCTV. "Artinya, kepolisian basisnya CCTV dan masyarakat bisa mengukur objektivitasnya, dan kami sebagai lembaga pengawas mengatakan bahwa objektivitas CCTV itulah yang paling penting," ujarnya dilansir dari Kompas.com saat di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/3/2026). Ia menekankan bahwa siapapun pelaku di balik peristiwa ini, jika fakta dan bukti kuat, harus diproses secara maksimal.
Di sisi lain, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanudin, menegaskan komitmennya untuk berkolaborasi dengan pihak TNI dalam menelusuri para tersangka. "Kami dari Polda Metro Jaya nanti bersama-sama TNI juga akan mengolaborasikan temuan dari fakta penyidikan," kata Iman dalam konferensi pers. Kolaborasi ini diharapkan dapat segera mengungkap tabir misteri dan membawa pelaku ke hadapan hukum.
Misteri yang Perlu Terungkap