BOGOR, BisnisMarket.com - Arah perkembangan teknologi global kini memasuki fase baru yang lebih personal, cerdas, dan terintegrasi. Di tengah perubahan besar tersebut, Huawei mengambil langkah agresif dengan meluncurkan kacamata berbasis kecerdasan buatan (AI) yang siap mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia digital.
Langkah ini bukan sekadar peluncuran produk biasa. Ini adalah sinyal kuat bahwa persaingan di industri wearable semakin panas, terutama dalam kategori kacamata pintar yang kini menjadi primadona baru di dunia teknologi.
Dilaporkan pada Selasa (21/4/2026), Huawei resmi memperkenalkan kacamata AI pertamanya yang langsung menyasar pasar global. Perangkat ini hadir dengan desain ringan hanya 35,5 gram, namun dibekali teknologi mutakhir yang menjadikannya lebih dari sekadar aksesori.
Dengan harga mulai dari 2.499 yuan atau sekitar Rp 6,28 juta, kacamata ini menawarkan berbagai fitur canggih berbasis AI. Pengguna dapat melakukan interaksi suara secara natural, melakukan pembayaran digital, hingga merekam aktivitas dari sudut pandang pertama secara langsung.
Tak hanya itu, teknologi AI multimodal yang disematkan memungkinkan perangkat ini untuk mengenali objek, menghitung estimasi kalori makanan, serta memantau aktivitas harian pengguna. Bahkan, fitur siaran langsung dan panggilan video dari perspektif pengguna menjadi daya tarik tersendiri yang belum banyak ditawarkan kompetitor.
Untuk mendukung performanya, Huawei menyematkan cip khusus yang dirancang eksklusif untuk kacamata pintar. Hal ini bertujuan meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga performa tetap optimal dalam penggunaan sehari-hari.
Namun di balik kecanggihan tersebut, Huawei juga menghadapi tantangan besar. Tekanan biaya produksi, terutama pada komponen memori, menjadi faktor yang memengaruhi strategi harga. Pihak perusahaan bahkan membuka kemungkinan kenaikan harga di masa depan jika biaya terus meningkat.
Peluncuran ini juga menandai lompatan besar dibanding generasi sebelumnya. Jika sebelumnya kacamata pintar Huawei hanya fokus pada fitur dasar seperti penerjemahan, kini perangkat tersebut telah berevolusi menjadi pusat kendali digital yang terintegrasi dengan gaya hidup modern.
Di sisi lain, persaingan global di pasar kacamata AI masih didominasi oleh Meta dengan pangsa pasar mencapai sekitar 85 persen pada 2025. Namun, pasar Tiongkok menunjukkan dinamika berbeda. Ketidakhadiran produk Meta membuka peluang besar bagi pemain lokal seperti Huawei, Xiaomi, dan Rokid untuk menguasai pasar domestik.