BISNISMARKET.COM - Dampak signifikan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, mulai dirasakan oleh sektor industri alat kesehatan (alkes) di Indonesia. Ketergantungan tinggi pada bahan baku impor membuat industri dalam negeri rentan terhadap gejolak ekonomi global.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Febie Yuriza Poetri, secara terbuka menyoroti kerentanan ini. Ketergantungan bahan baku ini menjadi titik lemah utama ketika terjadi ketidakpastian internasional.

Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Akibatnya, beban biaya produksi bagi para produsen alkes di Indonesia melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Selain fluktuasi nilai tukar, gangguan pada rantai pasok global turut memberikan kontribusi pada kenaikan biaya operasional. Hal ini memaksa perusahaan alkes untuk mengkaji ulang strategi mereka dalam menghadapi dinamika pasar.

"Daya tahan industri dalam menghadapi dampak perang Timur Tengah saat ini masih tergantung dengan kondisi tiap industri serta strategi perusahaan," ujar Febie Yuriza Poetri.

Kondisi yang dihadapi industri sangat beragam, tergantung pada bagaimana masing-masing perusahaan mengelola risiko terkait nilai tukar mata uang dan akses terhadap pasokan bahan baku. Faktor-faktor ini sangat menentukan daya saing mereka.

Lebih lanjut, terjadi peningkatan signifikan pada biaya logistik yang dilaporkan mencapai angka 20 hingga 40 persen. Kenaikan biaya ini menambah tekanan finansial yang sudah ada pada sektor produksi alkes nasional.

Untuk menjamin keberlangsungan industri alat kesehatan di masa depan, ASPAKI secara aktif mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret. Dorongan ini berfokus pada penguatan sektor hulu industri alkes di dalam negeri.

Tujuannya jelas, yakni mengurangi ketergantungan kronis pada pasokan bahan baku dari luar negeri. Penguatan sektor hulu dianggap krusial untuk menciptakan kemandirian industri.