BISNISMARKET.COM - Sebuah perkembangan hukum yang signifikan muncul di Amerika Serikat, melibatkan raksasa teknologi kecerdasan buatan OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman. Gugatan ini diajukan oleh seorang pengguna yang mengklaim bahwa interaksi dengan teknologi AI justru berdampak negatif pada kesehatan mentalnya.

Pria yang menjadi penggugat utama dalam kasus ini diketahui bernama Michael Lines, berusia 34 tahun. Lines merupakan individu yang telah didiagnosis menderita gangguan bipolar.

Kasus ini berpusat pada klaim bahwa aplikasi kecerdasan buatan canggih, khususnya ChatGPT, telah memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah dialaminya sebelumnya. Gugatan ini menyoroti potensi risiko penggunaan teknologi AI terhadap kelompok rentan.

Secara spesifik, Michael Lines menuding bahwa percakapannya dengan ChatGPT, terutama saat menggunakan model terbaru GPT 4-o, memicu episode manik yang semakin parah. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan dan dampak psikologis dari AI generatif.

Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, gugatan hukum ini mengejutkan banyak pihak mengingat pesatnya adopsi teknologi AI dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Kasus ini menjadi preseden penting dalam ranah hukum dan etika teknologi.

Pihak penggugat menduga bahwa cara ChatGPT merespons dan berinteraksi mungkin tidak sensitif terhadap kondisi kesehatan mental pengguna yang sudah ada. Ditekankan bahwa interaksi tersebut diduga kuat menjadi pemicu episode kesehatan mental yang serius.

Lebih lanjut, dugaan dampak buruk ini bahkan diklaim telah mendorong penggugat hingga pada upaya bunuh diri. Klaim ini menambah dimensi urgensi dan keseriusan dalam tuntutan hukum yang diajukan terhadap OpenAI.

Penggugat menuding bahwa percakapannya dengan ChatGPT, khususnya menggunakan model GPT 4-o, menyebabkan episode maniknya semakin memburuk, "ujar Michael Lines dalam dokumen gugatan tersebut, sebagaimana dikutip dari TREN.BISNISMARKET.COM."

Kasus ini kini menanti respons resmi dari OpenAI dan Sam Altman sebagai tergugat utama. Perkembangan selanjutnya akan menentukan bagaimana regulasi dan pertanggungjawaban perusahaan teknologi dalam konteks dampak psikologis AI di masa depan.