BISNISMARKET.COM - Tekanan berat mulai menghantam sektor industri hulu dalam negeri, khususnya industri plastik nasional, akibat krisis logistik energi yang bersumber dari kawasan Timur Tengah. Eskalasi konflik geopolitik tersebut berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku impor Indonesia.
Ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah membuat industri plastik menjadi salah satu sektor yang paling merasakan imbasnya secara langsung. Kondisi ini tercermin jelas dalam data neraca perdagangan terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS mencatat bahwa nilai impor plastik beserta produk turunannya mencapai angka signifikan, yaitu sebesar US$873,2 juta pada Februari 2026. Angka ini turut menyumbang pada defisit perdagangan Indonesia secara keseluruhan selama periode Januari hingga Februari 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan rincian angka tersebut dalam sebuah konferensi pers yang dilaksanakan pada Kamis (2/4/2026). "Barang dari plastik atau HS 39, pada bulan Februari di 2026 ini sudah saya sebutkan mencapai US$ 873,2 juta," ujar Ateng Hartono.
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa sumber impor plastik terbesar untuk Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, dengan nilai mencapai US$380,1 juta. Negara pemasok utama berikutnya adalah Thailand dan Korea Selatan.
Thailand menyumbang impor plastik senilai US$82,7 juta, sementara Korea Selatan berada di posisi ketiga dengan nilai impor sebesar US$66,7 juta. Impor dari negara-negara ini menjadi krusial bagi kelangsungan produksi domestik.
Sebelumnya, Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) telah memberikan peringatan mengenai peningkatan harga bahan baku plastik di pasar internasional. Kenaikan harga ini dikaitkan langsung dengan memanasnya situasi konflik di Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiyono, menyoroti bagaimana situasi geopolitik yang intens memengaruhi stabilitas rantai pasok bahan baku. "Saat ini situasi perang makin intens, saling serang dan kondisi Selat Hormuz makin sulit. Industri fokus ke manajemen feedstock dan barang jadinya," kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (16/3/2026).
Fajar mengungkapkan bahwa lonjakan harga bahan baku plastik yang dialami industri saat ini cukup substansial. Kenaikan tersebut disebut-sebut hampir mencapai dua kali lipat dari harga normal yang berlaku sebelumnya.