BISNISMARKET.COM - Masyarakat di Amerika Serikat kini tengah menghadapi lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang signifikan, mendorong mereka mencari berbagai cara untuk menekan konsumsi. Kondisi ini menjadi respons langsung terhadap kenaikan harga yang melanda stasiun pengisian bahan bakar di seluruh negeri.
Beberapa warga telah mulai mengubah pola mobilitas mereka sebagai strategi bertahan menghadapi kenaikan biaya. Sebagai contoh, warga Boston bernama Pat Ouedraogo kini membatasi perjalanan jarak jauh yang tidak mendesak.
Sementara itu, calon mahasiswa hukum Skyler Burke memilih strategi berbeda dengan menempuh jarak ekstra jauh demi mendapatkan harga bensin yang sedikit lebih murah di dekat kediamannya. Perbedaan harga antar SPBU menjadi pertimbangan utama dalam pengisian bahan bakar.
Di Houston, David Wright, seorang pialang, mengambil langkah drastis dengan mengganti kendaraan berbahan bakar fosil yang boros menjadi mobil listrik. Perubahan ini mencerminkan keseriusan konsumen dalam menghadapi situasi energi yang tidak menentu.
Kekhawatiran utama para pengendara di AS saat ini tertuju pada dampak perang Iran, yang mendorong harga BBM mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Situasi geopolitik ini menjadi faktor utama yang menekan pasar energi domestik.
Para ahli pasar energi menilai bahwa konflik yang telah berlangsung selama enam minggu ini merupakan salah satu gangguan pasokan minyak terburuk dalam sejarah. Hal ini disebabkan oleh kerusakan fasilitas produksi utama serta penutupan hampir seluruh jalur pengiriman minyak.
Pat Ouedraogo mengungkapkan rasa frustrasinya saat mengisi tangki SUV Nissan miliknya di SPBU Shell dengan harga US$ 4,99 per galon. "Ini situasi dimana anda merasa tidak berdaya menghadapi harga ini," kutip Reuters, Minggu (12/4/2026).
Data menunjukkan rata-rata harga bensin di AS mencapai US$ 4,16 per galon pada hari Jumat, sementara solar dibanderol US$ 5,67 per galon. Angka ini menandai harga tertinggi yang dibayar konsumen menjelang musim perjalanan puncak pasca invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Patric De Haan dari GasBuddy memperkirakan kenaikan harga ini akan menambah pengeluaran bensin dan solar di AS sebesar US$ 10,4 miliar antara 1 Maret hingga 10 April, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sejak perang dimulai.