BISNISMARKET.COM - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis, di mana sebuah laman Amerika Serikat, Newsweek, mengklaim bahwa Iran saat ini unggul dalam konfrontasi yang terjadi melawan Washington dan Israel. Klaim ini didasarkan pada perkembangan militer terbaru yang terdeteksi pada hari Selasa.

Kewalahan AS dalam menghadapi gelombang serangan terlihat dari keputusan strategis pemindahan aset pertahanan udara penting dari Korea Selatan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini mengindikasikan tekanan besar yang ditimbulkan oleh sebelas hari serangan Iran terhadap pasukan AS dan sekutunya.

"Pasukan AS yang ditempatkan di Korsel telah memindahkan sebagian dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari semenanjung tersebut," menurut laporan media lokal dimuat Newsweek, Rabu (11/3/2026). Pemindahan sistem canggih ini menjadi bukti nyata tekanan yang dialami Pentagon.

Tidak hanya THAAD, laman yang sama juga menyebutkan bahwa Pentagon telah melakukan penarikan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang berada di berbagai wilayah lain, termasuk kawasan Indo-Pasifik.

Konteks perang ini berawal pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan yang mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melakukan serangkaian serangan masif ke Tel Aviv, Yerusalem, serta pangkalan militer AS di negara-negara Arab.

Aksi balasan Iran tidak berhenti di situ, termasuk penutupan Selat Hormuz yang vital bagi jalur pelayaran minyak global serta serangan terarah ke fasilitas-fasilitas energi di Timur Tengah.

Meskipun AS telah mengerahkan amunisi dalam jumlah besar, dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa pasukan Amerika melancarkan serangan terkuat mereka, serangan balasan Iran telah memberikan tekanan serius pada stok rudal pencegat yang mahal. Rudal pencegat ini sangat penting untuk sistem pertahanan canggih seperti THAAD dan Patriot.

Militer Iran sendiri mengklaim telah berhasil menargetkan setidaknya empat radar THAAD di berbagai pangkalan Timur Tengah, termasuk Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

"Hal ini, membuat AS berupaya mengganti radar THAAD yang rusak akibat serangan drone di Yordania," kata seorang pejabat AS anonim kepada The Wall Street Journal.