BISNISMARKET.COM - Keterkejutan melanda Washington menyusul serangan udara yang dilancarkan oleh Israel terhadap puluhan fasilitas penyimpanan minyak di wilayah Iran selama akhir pekan kemarin. Serangan tersebut dilaporkan memicu kobaran api yang sangat dahsyat di lokasi target.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut-sebut menunjukkan ketidakpuasan yang signifikan terhadap tindakan militer Israel tersebut. Ketidakpuasan ini berpusat pada skala dan dampak dari serangan yang diarahkan ke depot bahan bakar vital Iran.
Kabar mengenai friksi antara Washington dan Yerusalem ini pertama kali diangkat oleh media Amerika Serikat, Axios. Sumber-sumber yang memahami perkembangan isu ini menjadi dasar utama laporan tersebut.
Informasi ini kemudian disebarkan lebih lanjut oleh kantor berita Anadolu Agency pada hari Senin, tanggal 9 Maret 2026. Ini menandai adanya keretakan signifikan dalam koordinasi keamanan kedua negara.
Perselisihan ini menjadi yang pertama kali muncul sejak terjadi serangan terkoordinasi dalam skala besar yang dilakukan bersama oleh AS dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Momen ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan strategis.
Serangan udara yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel terjadi pada hari Sabtu, 7 Maret, dan langsung menimbulkan dampak visual yang dramatis. Kebakaran besar dilaporkan melanda Teheran.
Kobaran api raksasa akibat ledakan tersebut dapat terlihat dari jarak beberapa kilometer jauhnya, menciptakan pemandangan mencekam di ibu kota Iran. Dampak kerusakan terlihat jelas dari asap tebal yang membubung tinggi.
Area ibu kota Iran dengan cepat diselimuti oleh asap tebal yang mengepul ke udara. Asap tersebut berasal dari tangki-tangki penyimpanan bahan bakar dan juga kawasan industri yang menjadi sasaran serangan.
"Amerika Serikat (AS) kecewa dengan skala serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap puluhan depot minyak di wilayah Iran selama akhir pekan, yang memicu kebakaran hebat," demikian bunyi salah satu laporan yang beredar.