BISNISMARKET.COM - Dunia militer kembali diguncang dengan kabar duka dari Timur Tengah, menyusul serangkaian serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran terhadap sasaran di kawasan tersebut. Serangan ini merupakan respons atas aksi gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel sebelumnya.

Militer Amerika Serikat (AS) secara resmi mengumumkan bahwa satu personel mereka kembali gugur akibat luka-luka yang diderita. Kematian ini menambah rentetan kerugian personel yang dialami oleh pasukan AS sejak konflik meningkat tajam pada akhir Februari lalu.

Dengan penambahan satu korban baru ini, total prajurit Amerika Serikat yang telah menghembuskan napas terakhir kini tercatat mencapai angka tujuh orang. Angka ini menjadi indikator jelas mengenai meningkatnya tensi dan risiko operasional di zona konflik tersebut.

Komando Pusat AS, atau yang lebih dikenal sebagai CENTCOM, menjadi pihak yang bertanggung jawab atas pengawasan operasi militer AS di seluruh wilayah Timur Tengah. Mereka memberikan konfirmasi resmi mengenai perkembangan tragis ini.

Pernyataan terbaru dari CENTCOM disampaikan pada hari Senin (9/3/2026), sebagaimana disebarluaskan oleh AFP dan Al Arabiya. Dalam rilis tersebut, mereka merinci waktu spesifik meninggalnya personel tersebut.

"Satu personel militer AS meninggal dunia pada Sabtu (7/3) malam waktu setempat," demikian keterangan yang disampaikan oleh CENTCOM, dilansir dari AFP dan Al Arabiya.

Lebih lanjut, CENTCOM menjelaskan bahwa kematian prajurit tersebut tidak terlepas dari rangkaian insiden sebelumnya. Personel tersebut meninggal akibat luka parah yang didapatkannya saat serangan besar-besaran terjadi.

"Personel AS itu tewas 'akibat luka-luka yang dideritanya selama serangan awal rezim Iran di seluruh Timur Tengah' pada 1 Maret lalu," demikian kutipan pernyataan resmi dari CENTCOM.

Peristiwa ini menegaskan bahwa dampak dari serangan balasan Iran memiliki konsekuensi serius dan berjangka panjang terhadap personel militer AS yang bertugas di garis depan operasi.