BISNISMARKET.COM - Warga santri dan tokoh pesantren ramai-ramai melancarkan seruan boikot terhadap stasiun televisi Trans7 setelah sebuah cuplikan tayangan program "Xpose" beredar dan dinilai melecehkan martabat ulama sepuh Pondok Pesantren Lirboyo.
Kehebohan berlangsung cepat di media sosial, unggahan resmi Trans7 di Instagram dibanjiri kecaman, tagar boikot bermunculan, dan lembaga hukum serta organisasi santri menyiapkan langkah hukum dan tuntutan permintaan maaf. Berikut penjelasan lengkap mengenai alasan kemarahan publik, kronologi peristiwa, pihak-pihak yang bereaksi, dan potensi implikasi dari seruan boikot ini.
Beberapa poin yang menjadi sumber kemarahan dan tuntutan dari komunitas pesantren dan netizen:
1. Bahasa dan framing yang dinilai merendahkan
Potongan redaksi kata-kata dalam tayangan itu dianggap “tidak beradab” dan cenderung melecehkan. Framing pemberitaan dinilai menempatkan ulama seolah sedang “ingin dihargai” atau “ingin mendapatkan uang”, narasi yang dinilai menistakan peran kiai dalam kehidupan keagamaan dan sosial.
2. Tidak ada konfirmasi langsung
LBH Ansor dan pihak pesantren menyorot bahwa redaksi tidak melakukan konfirmasi yang memadai kepada tokoh yang diberitakan sebelum menayangkan. Hal ini melanggar etika jurnalistik dasar yakni konfirmasi dan verifikasi.
3. Mengabaikan nilai kultural dan sensitivitas keagamaan
Kiai dan pesantren memegang posisi penting dalam budaya dan masyarakat setempat. Tayangan yang memuat unsur olok-olok atau candaan terhadap tokoh religius dianggap mengabaikan tanggung jawab kultural media.
4. Skala reaksi publik yang cepat dan masif
Puluhan ribu komentar negatif pada unggahan resmi Trans7 memicu gelombang protes digital. Penetrasi media sosial mempercepat penyebaran kemarahan dan memobilisasi tuntutan boikot.
Kronologi Peristiwa (Ringkasan Berurutan)
Berikut alur kejadian berdasarkan narasi yang beredar:
1. Penayangan program
Sebuah episode program Xpose di Trans7 menayangkan cuplikan yang memuat komentar dan redaksi seputar sosok kiai sepuh Pondok Pesantren Lirboyo.
2. Peredaran potongan video di media sosial
Cuplikan dianggap problematik menyebar luas lewat platform seperti Instagram, WhatsApp, dan platform video pendek, memicu reaksi cepat komunitas pesantren.
3. Reaksi komunitas santri dan tokoh pesantren
Akun-akun komunitas santri seperti Santri Keren, Nugaris Lucu, Cah Pondok dan figur santri berbagi ulang materi yang menuntut permintaan maaf terbuka dari CT Corp dan Trans7. Seruan boikot menjadi trending di sejumlah kanal.