JAKARTA, BisnisMarket.com - Saat rupiah terus merosot hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan membuat pasar keuangan berguncang hebat, satu pertanyaan besar melayang: mengapa Bank Indonesia (BI) terkesan diam dan kurang berbicara? Kecemasan pelaku pasar makin memuncak saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tergerus hingga 1,7 persen ke level 5.839, seolah tak ada respons tegas dari otoritas moneter. Kini, Istana Negara akhirnya buka suara dan mengungkap apa sebenarnya yang terjadi, sekaligus menjawab tudingan bahwa komunikasi kebijakan dianggap buruk dan tidak memuaskan banyak pihak.

Istana Akui Ada Kekurangan, Tapi Sudah Diperbaiki

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah dan otoritas moneter sebenarnya terus berkomunikasi dengan pasar, namun ia tidak menampik bahwa pada momen tertentu penyampaian pesan masih dinilai kurang baik atau kurang jelas. “Tidak ada sesuatu yang sempurna, jadi kalau ada yang perlu diperbaiki ya mari kita perbaiki bersama, karena ekonomi ini saling berkaitan,” ujarnya tegas di Kompleks Parlemen, Sabtu (6/6/2026). Dilansir dari Bloomberg Technoz (6/6), ia menjamin strategi penyampaian informasi antara kebijakan fiskal dan moneter sedang disempurnakan agar lebih jelas, cepat, dan bisa dipahami semua pihak, mulai dari investor hingga masyarakat umum.

Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso, kelambatan atau keheningan komunikasi saat tekanan nilai tukar memuncak memang sering terjadi di negara berkembang, namun sangat berisiko memperburuk sentimen pasar. “Ketika mata uang melemah tajam, pasar butuh kepastian dan sinyal kuat. Jika otoritas diam, asumsi negatif berkembang sendiri dan mempercepat penurunan nilai tukar,” jelasnya. Hal ini sejalan data Bank Indonesia yang menyatakan bahwa kepercayaan pasar sangat bergantung pada transparansi dan konsistensi pesan kebijakan.

Spekulan Jadi Penyebab Utama Guncangan?

Prasetyo juga menyoroti peran pihak-pihak tertentu yang dianggap memperparah situasi. Ia menyebutkan, “Kadang ada yang nakal, ada spekulan yang tanpa sadar atau sengaja memberi pengaruh buruk pada nilai tukar maupun pergerakan IHSG.” Menurutnya, praktik spekulasi dan permainan pasar yang tidak wajar justru menjadi salah satu pemicu utama ketidakstabilan, bukan semata-mata kondisi ekonomi dasar Indonesia yang buruk. Ia pun meminta seluruh elemen masyarakat dan pelaku pasar saling menjaga agar pasar keuangan tetap sehat dan tidak dirugikan ulah segelintir pihak saja.

Data dari lembaga riset pasar menunjukkan bahwa saat ketidakpastian global meningkat, seperti kenaikan suku bunga AS dan ketegangan geopolitik, dan arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat rupiah makin tertekan, dan tanpa komunikasi yang jelas, ketakutan investor makin membesar dan menciptakan lingkaran setan pelemahan mata uang.

DPR Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Sinergi Kunci Utama

Menanggapi guncangan ini, Dewan Perwakilan Rakyat langsung mengumpulkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo hari ini juga. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pertemuan ini bertujuan mengevaluasi ekonomi dan memperkuat kerja sama antara kebijakan fiskal dan moneter. “Kita pastikan kedua kebijakan ini saling mendukung demi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menjaga stabilitas nilai tukar,” tegas Dasco. Langkah ini dianggap sangat penting karena kebijakan fiskal yang sehat dan kebijakan moneter yang tepat sasaran adalah dua kaki penyangga utama ketahanan ekonomi nasional.