JAKARTA, BisnisMarket.com - Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak, dan dunia menyaksikan sebuah langkah besar dari Amerika Serikat yang berpotensi mengubah peta perdagangan global. Sebuah program reasuransi senilai Rp338 triliun diluncurkan, dengan harapan memulihkan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang selama ini rawan konflik dan ancaman.
Mengapa Selat Hormuz Jadi Fokus Dunia?
Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, adalah salah satu jalur tersibuk di dunia. Sekitar seperlima dari minyak dunia dan berbagai produk penting lainnya melewati jalur ini setiap hari. Namun, ketegangan yang memuncak antara Iran dan kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel, telah membuat lalu lintas di sana hampir terhenti. Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas, menimbulkan kekhawatiran global akan potensi gangguan besar terhadap pasokan energi.
Langkah Besar AS: Reasuransi Rp338 Triliun
Dalam upaya menenangkan situasi dan memastikan kelancaran perdagangan, pemerintah AS melalui US International Development Finance Corp. (DFC) mengumumkan program reasuransi maritim senilai US$20 miliar atau sekitar Rp338,79 triliun. Program ini dirancang untuk mengasuransikan kapal yang melintas di wilayah tersebut, termasuk risiko perang, dan akan berlaku secara bergulir. Tujuannya jelas: menstabilkan pasar dan mengurangi kekhawatiran pemilik kapal serta asuransi swasta yang selama ini enggan menanggung risiko tinggi di zona konflik ini.
Pengumuman ini muncul beberapa hari setelah Presiden Donald Trump memerintahkan DFC untuk menawarkan asuransi dengan harga yang sangat wajar, demi memastikan aliran minyak dan perdagangan tidak terganggu. “Kami berkoordinasi erat dengan CENTCOM mengenai langkah selanjutnya dalam implementasi rencana ini,” ujar DFC, menegaskan komitmen mereka dilansir dari Bloomberg Technoz (8/3).
Dukungan dari Asuransi Swasta dan Tantangan yang Masih Ada
Meski AS berusaha menstabilkan situasi, perusahaan asuransi swasta juga menunjukkan minat besar. Asosiasi Pasar Lloyd's menyatakan bahwa mereka bersedia dan mampu menanggung risiko kapal yang ingin melewati Selat Hormuz. Bahkan, broker besar seperti Arthur J. Gallagher & Co. menyebut pasar asuransi London sudah siap untuk mendukung langkah ini.
Namun, kendala utama tetap muncul dari kekhawatiran keselamatan awak kapal. Banyak pemilik kapal masih ragu untuk melewati jalur tersebut karena risiko keamanan dan pengiriman awak ke zona perang masih menjadi masalah utama. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa saat ini masih belum ada keputusan pasti terkait pengawalan kapal oleh militer AS di kawasan tersebut.