BISNIS MARKET - Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) deklarasikan kesiapan total kolaborasi dengan pemerintah untuk angkat kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2025, di tengah kontroversi keracunan massal yang gebrak 5.000 anak se-Indonesia. Sebagai mitra strategis jasa boga, APJI yakin sinergi industri dan pemerintah jadi kunci distribusi makanan aman, sehat, serta bergizi sesuai standar nasional. 

Dengan target 20 juta penerima dari PAUD hingga ibu hamil, MBG bukan hanya cegah stunting 21,5% anak, tapi juga dorong PDB Rp4.510 triliun melalui UMKM lokal. Ketua Umum DPP APJI, Tashya Megananda Yukki, tekankan kesuksesan MBG butuh peningkatan jaminan kualitas konsisten di seluruh rantai pasok. 

“Program MBG sebagai prioritas pemerintah tak hanya soal kuantitas makanan, tapi standar mutu, higienitas, dan nilai gizi harus terjaga oleh SDM di setiap tahap,” ujar Tashya, dalam keterangan resminya, Selasa (30/9/2025). 

Pernyataan ini relevan pasca-laporan Global Property Guide catat yield sewa properti stabil, tapi fokus APJI justru pada food safety MBG untuk hindari kasus seperti 1.333 pelajar keracunan di Bandung Barat.

APJI telah aktif melatih keamanan pangan bagi 700 pengajar dan 820 assesor Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang jadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pelatihan cover strategi delivery MBG, dari pengolahan makanan, transportasi, hingga hygiene dapur, capai 30.000 siswa SPPI di 17 provinsi hingga September 2025. 

“Dengan pengalaman APJI di jasa boga skala besar, kami siap peran aktif tingkatkan implementasi MBG melalui kolaborasi lebih dalam,” tambah Tashya. 

Kolaborasi ini selaras visi Presiden Prabowo Subianto capai 82,9 juta penerima akhir 2025, ciptakan 290 ribu lapangan kerja baru di dapur dan keterlibatan 1 juta petani-UMKM. APJI optimis, pelatihan SPPI bakal kurangi risiko cross-contamination yang picu krisis kepercayaan publik.

Sekjen DPP APJI, Ariguna Napitupulu, soroti penjaminan kualitas teknis detail seperti supply bahan baku premium, kontrol hygiene dapur, dan batas serving makanan 4 jam pasca-masak. “Aspek ini bukan sekadar administratif, tapi kunci pastikan makanan MBG aman dan bergizi untuk anak-anak, dukung kebiasaan sehat jangka panjang,” kata Ariguna. 

Fokus traceability dan food safety ini penting, mengingat anggaran Rp71 triliun APBN 2025 untuk MBG harus hasilkan dampak nyata kurangi malnutrisi 32% anemia anak. Ariguna menekankan pencegahan cross-contamination dan alat operasional standar komersial sebagai fondasi pencegahan keracunan MBG 2025.