BISNISMARKET.COM - Kondisi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, kini menjadi perhatian serius industri manufaktur di Indonesia. Gejolak ini menciptakan sentimen negatif yang berpotensi menekan target ambisius sektor otomotif nasional.

CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, mengungkapkan kekhawatiran bahwa target penjualan mobil nasional sebesar 1 juta unit pada tahun 2026 kemungkinan besar perlu mengalami koreksi signifikan. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian pasar akibat eskalasi konflik kawasan tersebut.

Khusus pada segmen kendaraan niaga yang digarap oleh PT Sokonindo Automobile, situasi pasar menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen yang mulai hati-hati. Permintaan pada periode Januari hingga Februari 2026 masih terlihat stabil, sejalan dengan pencapaian tahun sebelumnya.

Namun, memasuki Maret 2026, terjadi pergeseran signifikan di mana calon pelanggan mulai mengadopsi sikap 'wait & see'. Mereka menunda keputusan pembelian sambil menanti kejelasan lebih lanjut mengenai perkembangan konflik Iran melawan AS dan Israel.

"Kecamuk Perang Timur Tengah disebut CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus sebagai sentimen yang menekan industri manufaktur termasuk otomotif di Indonesia sehingga target penjualan 1 juta unit mobil pada 2026 mungkin akan mengalami koreksi," ujar Alexander Barus.

Fenomena penundaan pembelian ini secara langsung memengaruhi proyeksi penjualan jangka pendek perusahaan di sektor kendaraan komersial. Ketidakpastian harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama pemicu keraguan konsumen.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah yang merupakan efek langsung dari perang tersebut justru membuka peluang strategis yang menarik bagi para produsen otomotif. Eskalasi harga energi fosil mendorong percepatan adopsi solusi alternatif.

Peluang tersebut terletak pada peningkatan minat pasar terhadap kendaraan listrik niaga, yang dianggap sebagai mitigasi risiko terhadap volatilitas harga bahan bakar minyak. Hal ini menjadi fokus baru bagi produsen seperti PT Sokonindo Automobile.

"Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah efek perang menjadi peluang bagi produsen otomotif untuk meningkatkan penjualan kendaraan listrik niaga," kata Alexander Barus.