JAKARTA, BisnisMarket.com - Suasana tegang menyelimuti kampus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pada Selasa (14/4/2026) dini hari. Sebuah forum persidangan terbuka digelar, bukan untuk agenda akademik biasa, melainkan untuk menuntut pertanggungjawaban 16 mahasiswa yang diduga kuat melakukan pelecehan seksual terhadap rekan mahasiswi mereka sendiri. Momen ini menjadi sorotan, terlebih saat para terduga pelaku dihadirkan, nyaris memicu luapan emosi dari puluhan mahasiswi yang hadir. Bagaimana drama ini berlangsung?
Momen Dramatis: Pelaku Dihadirkan, Sorakan Menggema
Sebagaimana dilansir dari Kompas.com (14/4), forum persidangan terbuka yang merupakan kerja sama antara Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM FH UI) dan Dekanat FH UI ini, diwarnai ketegangan sejak awal. Begitu para terduga pelaku memasuki ruang sidang, sorakan dan teriakan riuh dari ratusan mahasiswa yang hadir seketika menggema. Beberapa pelaku memilih masuk melalui pintu depan, sementara yang lain melalui pintu belakang, namun tak pelak, tatapan tajam dan kekecewaan dari para hadirin tak terhindarkan. Wajah para pelaku tampak tertunduk, sesekali melirik ke arah peserta sidang, seolah menyadari beratnya tuntutan yang dihadapi.
Tak hanya sorakan, beberapa mahasiswi bahkan nekat menghampiri para pelaku di depan ruang sidang, menyampaikan kekesalan dan kekecewaan mereka secara langsung dengan ekspresi emosional yang kuat. "Cuma dua? Cuma dua?" teriak para mahasiswi saat awal sidang hanya dihadiri dua pelaku, menunjukkan kekecewaan atas ketidakhadiran seluruhnya.
Tensi Meningkat: Negosiasi dan Pengakuan
Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, membenarkan adanya respons emosional dari para korban dan mahasiswi yang resah. "Pastinya terdapat respons juga dari pada korban yang resah dan kesal terhadap perlakuan para pelaku," ujarnya. Tensi yang meningkat ini, lanjut Dimas, disebabkan oleh keengganan sebagian pelaku untuk hadir, bahkan ada orang tua yang sempat menahan anak-anak mereka.
Namun, setelah melalui negosiasi alot, akhirnya para orang tua pelaku setuju untuk mengizinkan keempat belas pelaku lainnya hadir. "Pada akhirnya, forum ini dijalankan berbarengan untuk 16 pelaku," jelas Dimas, menegaskan komitmen untuk menyelesaikan persoalan ini secara tuntas.
Awal Mula Kasus: Permintaan Maaf di Grup Angkatan
Kasus ini mencuat ke publik setelah 16 mahasiswa angkatan 2023 tersebut secara tiba-tiba menyampaikan permintaan maaf di grup angkatan. "Untuk permohonan maaf itu disampaikan oleh 16 pelaku. Dan untuk statusnya, mereka semua mengakui perbuatan mereka," ungkap Dimas. Pengakuan ini menegaskan bahwa mereka bukan lagi sekadar terduga, melainkan pelaku yang telah mengakui perbuatannya.