BISNISMARKET.COM - Situasi maritim di Selat Hormuz, jalur perairan yang krusial bagi perdagangan global, dilaporkan semakin memanas dengan adanya manuver verbal antara Iran dan Amerika Serikat. Perairan strategis ini belakangan ini mengalami hambatan signifikan akibat konflik yang masih berkecamuk di kawasan tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi kehadiran kapal perang Amerika Serikat di area tersebut. Pernyataan ini mengindikasikan adanya tantangan langsung terhadap rencana keamanan maritim yang disusun oleh Washington.
Juru bicara resmi IRGC, Ali Mohammad Naini, menjadi figur sentral dalam menyampaikan pesan tegas dari Teheran mengenai isu pengawalan kapal ini. Pernyataan tersebut secara spesifik menyoroti kesiapan pasukan Iran di garis depan.
"Kami menunggu kehadiran mereka," kata juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, dilansir media Al Arabiya, Sabtu (7/3/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran telah mengetahui dan bersiap menghadapi langkah selanjutnya dari otoritas AS.
Pengumuman ini muncul tidak lama setelah adanya pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat mengenai rencana peningkatan keamanan di Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya risiko navigasi di perairan tersebut.
Sebelumnya, Menteri Energi AS telah mengumumkan bahwa Angkatan Laut negara tersebut sedang dalam tahap persiapan intensif. Persiapan ini bertujuan agar mereka dapat segera memberikan pengawalan kepada kapal-kapal komersial jika situasi dianggap memungkinkan.
Menteri Energi AS menyatakan bahwa "Angkatan Laut AS sedang bersiap untuk mengawal kapal-kapal melintasi selat tersebut 'segera setelah hal itu dianggap wajar untuk dilakukan.'" Pernyataan ini menjadi pemicu langsung bagi respons terbuka dari IRGC.
Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan keamanan di salah satu arteri energi dunia tersebut, di mana setiap pergerakan militer dapat memicu reaksi cepat dari pihak lawan.