JAKARTA, BisnisMarket.com - Bayangkan berada di ruang sidang megah, di tengah para wakil rakyat, namun yang terdengar bukan argumen hukum melainkan isak tangis penuh keputusasaan. Momen itu nyata. Dan menjadi sorotan publik.
Suasana rapat di DPR RI mendadak berubah hening ketika videografer bernama Amsal Sitepu tak mampu lagi membendung emosinya. Di hadapan para anggota dewan, ia menyampaikan keluh kesah yang bukan sekadar soal hukum, melainkan juga tentang kemanusiaan.
Tangisnya pecah. Kata-katanya terputus. Namun pesan yang ingin ia sampaikan begitu jelas: ia merasa tak sepantasnya menjalani hukuman penjara atas perkara yang menjeratnya.
Timnas Putri Indonesia Bersiap Hadapi Singapura di Bandung, Ujian Krusial untuk Peringkat FIFA
Jeritan Keadilan yang Terasa Jauh
Peristiwa ini bukan sekadar drama emosional. Ini adalah refleksi dari kegelisahan masyarakat kecil terhadap sistem hukum yang sering kali terasa kaku dan jauh dari rasa keadilan.
Amsal, dengan suara bergetar, menyampaikan bahwa dirinya bukan penjahat berbahaya. Ia hanya seseorang yang terjebak dalam situasi yang menurutnya tidak sepenuhnya ia pahami.
Dikutip dari Kompas.com (30/3), ia berkata, “Tak perlu dipenjara, saya hanya…,” kalimatnya terhenti oleh tangis yang tak tertahan, menggambarkan betapa berat beban yang ia pikul.
Antara Aturan dan Rasa Kemanusiaan
Kasus ini memunculkan pertanyaan penting: apakah hukum selalu sejalan dengan keadilan? Dalam praktiknya, hukum memang harus ditegakkan. Namun, keadilan tidak selalu identik dengan hukuman yang keras.