BISNIS MARKET - PT Pertamina (Persero) menolak sindiran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut perusahaan pelat merah ini malas membangun kilang minyak. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan pihaknya tengah mengerjakan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Agung menjawab sindiran Purbaya dengan menunjukkan komitmen nyata pembangunan kilang yang ditargetkan selesai November 2025. “Kalau males-malesan enggak mungkin panas-panasan bangun (kilang),” tegas Agung dalam acara CEO Connect 2025, seperti dikutip Kompas.com, pada Jumat (17/10/2025).

Purbaya sebelumnya melontarkan kritik pedas dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI pada 1 Oktober 2025. “Jadi kilang itu bukan kita enggak bisa bikin, cuman Pertaminanya malas-malesan saja,” ujarnya, menyoroti ketidakmampuan memenuhi janji tujuh kilang baru sejak 2018.

Menanggapi kritik tersebut, Agung menegaskan Pertamina telah bertransformasi dengan fokus pada peningkatan produksi dan energi terbarukan. “Mungkin yang disampaikan itu masa lalu, tetapi masa sekarang Pertamina berubah,” tegasmnya.

Pertamina menerapkan strategi Dual Growth untuk memperkuat bisnis migas sekaligus mengembangkan energi rendah karbon. Proyek RDMP Balikpapan dirancang fleksibel untuk mengolah minyak mentah domestik guna mengurangi ketergantungan impor.

Agung menjelaskan, kilang baru ini mempertimbangkan investasi besar dan risiko yang dihadapi. “Ini menunjukkan bahwa dual growth strategy tadi bukan hanya omon-omon, memang kami lakukan,” katanya, menegaskan komitmen terhadap ketahanan energi.

Sementara itu, produksi minyak Indonesia hanya 600.000 barel per hari, jauh dari kebutuhan nasional 1,4 juta barel. Impor BBM yang melonjak terus membebani subsidi dan neraca perdagangan, mendorong urgensi pembangunan kilang baru.

Purbaya menyoroti dampak keterlambatan pembangunan kilang terhadap APBN dan neraca perdagangan Indonesia. Dengan RDMP Balikpapan, Pertamina berupaya menjawab tantangan tersebut, membuktikan bahwa tuduhan “malas” tak lagi relevan di era transformasi perusahaan.