SURAKARTA, BisnisMarket.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan strategis ke Tokyo, Jepang, pada pertengahan Maret 2026. Dalam pertemuan dengan Menteri METI Jepang Ryosei Akazawa, disepakati nota kesepahaman terkait mineral kritis dan teknologi nuklir rendah karbon.
Bahlil mendorong percepatan investasi Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela yang bernilai fantastis mencapai Rp339 triliun. Selain migas, pemerintah juga menawarkan pengelolaan bersama komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang.
Diplomasi ini mencakup penguatan sektor batubara dan gas alam cair (LNG) dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Fokus lainnya adalah penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka serta optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla.
Langkah berani Bahlil Lahadalia ini mendapat apresiasi positif dari pakar kebijakan publik, Prof. Dr. Henry Indraguna, SH., MH. Prof Henry menilai capaian ini sebagai wujud kedaulatan hukum dan ekonomi yang presisi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi kuasa global, namun menjadi subjek yang aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri," ujar Prof Henry di Surakarta, Selasa (17/3/2026). Ia menganggap pemerintah berhasil mendekonstruksi narasi bahwa negara berkembang hanya berfungsi sebagai penyedia bahan mentah.
Diplomasi ini dinilai membawa Indonesia bertransformasi menjadi penentu utama dalam rantai pasok dunia yang sangat kompetitif. Prof Henry menegaskan bahwa langkah ini menunjukkan hukum nasional mampu beradaptasi dengan standar internasional tanpa kehilangan jati diri konstitusional.
Dari perspektif ekonomi modern, Guru Besar Unissula Semarang ini melihat diplomasi tersebut sebagai implementasi teori Endogenous Growth. Konsep yang dirumuskan Paul Romer ini menekankan pertumbuhan jangka panjang yang bersumber dari investasi modal manusia dan teknologi.
"Langkah Pak Bahlil mengamankan teknologi nuklir dan hilirisasi nikel adalah upaya agar kita tidak terjebak dalam pertumbuhan stagnan," tutur Prof Henry. Ia meyakini integrasi investasi Jepang akan menciptakan ekosistem ekonomi nasional yang tangguh terhadap guncangan eksternal.
Kepastian hukum yang ditawarkan dalam proyek Masela memberikan sinyal positif bagi pasar global bahwa Indonesia adalah mitra investasi yang kredibel. Secara yuridis, nota kesepahaman tersebut harus terus dikawal agar tetap berada dalam koridor perlindungan kepentingan nasional.