BISNISMARKET.COM - Biaya logistik untuk mengangkut minyak mentah dari Amerika Serikat menuju pasar Asia mengalami peningkatan signifikan. Gejolak geopolitik yang meluas di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan tarif sewa kapal tanker ini. Akibatnya, beberapa transaksi pengapalan minyak yang sudah disepakati terpaksa dibatalkan karena beban biaya yang dianggap terlalu memberatkan.

Salah satu indikator kenaikannya terlihat dari data Baltic Exchange di London, sebagaimana dikutip dari Bloomberg pada Kamis (5/3/2026). Biaya untuk menyewa kapal tanker jenis VLCC guna mengangkut dua juta barel minyak mentah dari Pantai Teluk AS ke China telah melampaui angka US$29 juta per pelayaran. Angka fantastis ini merupakan rekor tertinggi sepanjang pencatatan dan hampir dua kali lipat dibandingkan dua minggu sebelumnya.

Kenaikan dramatis ini secara efektif menempatkan tarif pengiriman setara dengan US$14,50 per barel. Angka tersebut memakan hampir 20% dari harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) yang kemarin berada di kisaran US$75 dollar AS per barel. Lonjakan ini terjadi seiring dengan meningkatnya harga WTI dan Brent crude akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang dibalas Teheran.

Konflik tersebut telah berhasil menghentikan total lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi dunia yang sangat krusial. Imbasnya, permintaan minyak mentah AS meningkat karena pembeli Asia mencari alternatif pasokan dari Teluk Persia yang terganggu. Namun, pasokan dari Cekungan Atlantik justru ikut mengalami kenaikan premi harga yang substansial.

Kenaikan permintaan ini turut mendongkrak harga minyak mentah jenis Mars Blend dari AS, mencapai selisih tertinggi terhadap WTI sejak tahun 2020, berdasarkan data Indeks Umum. Meskipun demikian, kecenderungan tren kenaikan biaya ini mulai dipertanyakan oleh pasar. Tankers International melaporkan bahwa beberapa pemesanan kapal tanker super dari Pantai Teluk AS telah dibatalkan dalam 24 jam terakhir.

Contoh nyata pembatalan terjadi pada perusahaan penyulingan minyak Thailand, PTT Public Company Limited, yang sempat memesan kapal seharga sekitar US$29 juta, menurut pialang kapal, meskipun kesepakatan tersebut akhirnya gagal berdasarkan data Tankers International. Pembatalan seperti ini sering terjadi ketika tarif mengalami fluktuasi ekstrem dalam waktu singkat.

Sementara itu, pendapatan operator kapal tanker pada rute Timur Tengah–China melonjak hingga US$475.000 per hari, namun pemesanan tetap terbatas karena hambatan di Selat Hormuz. Kelangkaan armada ini membuat tarif sewa harian kapal tanker hampir setara dengan biaya penyewaan anjungan pengeboran lepas pantai tercanggih, seperti yang dibebankan Transocean Ltd. sebesar rata-rata US$470.000 per hari.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Market.bisnis. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.