JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda melihat ikan bersisik tebal dengan kumis panjang yang berenang di perairan Indonesia? Ya, ia adalah ikan sapu-sapu, spesies yang kini menjadi momok bagi ekosistem perairan kita. Namun, cara penanganannya pun tak kalah menarik perhatian. Baru-baru ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik metode pemusnahan ikan sapu-sapu yang dinilai kurang tepat, dan mengusulkan agar ikan ini sebaiknya dikubur. Keputusan ini tentu mengundang rasa penasaran, mengapa ikan yang sering dianggap hama ini harus diperlakukan sedemikian rupa?
Kontroversi Pemusnahan Ikan Sapu-sapu
Dilansir dari Kompas.com (19/4), kritik MUI muncul setelah adanya laporan mengenai pemusnahan ikan sapu-sapu yang dinilai belum efektif. Metode pembakaran yang selama ini dilakukan, menurut sebagian pihak, belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, selaku pejabat yang terlibat dalam penanganan ikan sapu-sapu, berjanji akan memperbaiki cara pemusnahan tersebut. "Kami akan perbaiki (pemusnahan ikan sapu-sapu), jangan sampai seperti ini," ujarnya, menyiratkan adanya evaluasi mendalam terhadap prosedur yang ada.
Mengapa Harus Dikubur?
Lantas, apa yang membuat MUI merekomendasikan metode penguburan? Alasan utamanya berkaitan dengan potensi penyebaran penyakit dan dampak lingkungan. Ikan sapu-sapu, yang dikenal sebagai hewan invasif, dapat membawa berbagai patogen yang berpotensi mengancam ikan lokal maupun kesehatan manusia jika tidak ditangani dengan benar. Penguburan yang dilakukan dengan cara yang tepat, seperti pada kedalaman tertentu dan terpisah dari sumber air, dianggap dapat meminimalkan risiko tersebut.
"Kalau dibakar, kan bisa jadi abu, terus nanti kena air lagi, bisa jadi masalah juga," ungkap seorang pengamat lingkungan yang enggan disebutkan namanya. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa residu dari pembakaran pun masih bisa menimbulkan dampak negatif jika tidak dikelola secara bijak.
Ancaman Nyata Bagi Ekosistem Lokal
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukan asli perairan Indonesia. Kehadirannya yang semakin masif di sungai, danau, dan waduk menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati lokal. Ikan ini memiliki daya tahan hidup yang tinggi, mampu bertahan di berbagai kondisi air, dan berkembang biak dengan cepat.
"Mereka ini rakus, memakan telur ikan asli, tumbuhan air, bahkan bisa merusak habitat dengan cara menggali lubang di tepi sungai," jelas seorang peneliti perikanan. Kemampuannya bersaing dalam mendapatkan makanan dan ruang hidup membuat ikan-ikan asli Indonesia terdesak, bahkan terancam punah.