JAKARTA, BisnisMarket.com -
Di tengah ketidakpastian yang membayangi pasar keuangan dunia, nilai tukar
rupiah bergerak seirama harapan dan kekhawatiran. Satu sisi ada dorongan
penguatan, namun di sisi lain tekanan dari luar negeri tak kunjung mereda.
Apakah langkah tegas yang disiapkan Bank Indonesia akan menjadi penopang
andalan rupiah, ataukah badai yang datang terlalu besar untuk ditahan?
Rupiah Bergerak Terbatas di Pasar Luar
Negeri
Pada sesi perdagangan Rabu (22/7), rupiah sempat
stagnasi namun kemudian menguat 0,04 persen ke posisi Rp17.946 per dolar AS di
pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Penguatan ini berjalan terbatas, dipicu
kembali naiknya harga minyak dunia yang menyentuh angka 91,59 dolar AS per
barel seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan
merespons jika kelompok Houthi mengganggu pelayaran di Laut Merah, serta
menegaskan siap menyerang fasilitas nuklir Iran. Meski begitu, indeks dolar AS
turun tipis 0,04 persen ke 101,13, memberi ruang bagi sebagian mata uang Asia
untuk menguat. Won Korea Selatan naik 0,2 persen, sementara yen Jepang dan yuan
lepas pantai bergerak terbatas. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah 0,13
persen bersama dolar Singapura.
Ekspektasi Langkah Hawkish BI Buka Ruang
Apresiasi
Pelaku pasar kini menaruh harapan besar pada kebijakan
Bank Indonesia. Dilansir dari Bloomberg Technoz (22/7), ruang penguatan rupiah
masih terbuka seiring ekspektasi pasar bahwa BI akan mengambil langkah ketat
dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.
Jika langkah ini terealisasi dan BI memberi sinyal
siklus pengetatan kebijakan masih berlanjut, rupiah berpotensi bergerak di
kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS di pasar tunai. Namun, seberapa
besar dampak kebijakan ini menghadapi beragam tantangan yang datang dari dua
arah sekaligus.
Tantangan Ganda: Tekanan Eksternal dan
Beban Domestik
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede
memproyeksikan pelemahan rupiah bisa mencapai puncaknya pada kuartal III tahun
2026 di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.