BISNISMARKET.COM - Sebuah analisis mendalam dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan akan kembali bergulir pada Juli 2026 berpotensi memicu peningkatan permintaan terhadap produk pangan.
Meskipun demikian, Indef menilai dampak langsung dari peningkatan permintaan ini terhadap inflasi nasional secara keseluruhan diperkirakan masih dalam batas yang terkendali. Namun, ada kemungkinan terjadi kenaikan harga pada komoditas pangan tertentu.
Menanggapi tren kenaikan harga yang mulai terlihat pada produk seperti ayam dan telur, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, memberikan pandangannya. Ia mengamati bahwa pemulihan permintaan pasca libur sekolah memang menjadi salah satu faktor pendorong.
"Meski demikian, kenaikan tersebut dia nilai bersifat koreksi atas anjloknya harga sebelumnya, bukan lonjakan inflasi," jelas M. Rizal Taufikurahman.
Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini lebih merupakan penyesuaian pasar setelah periode harga yang rendah, bukan indikasi lonjakan inflasi yang signifikan.
Analisis Indef ini memberikan gambaran mengenai dinamika ekonomi yang mungkin terjadi dengan adanya program MBG. Peningkatan konsumsi memang diprediksi, namun dampaknya pada stabilitas harga nasional tetap menjadi perhatian utama.
Perkiraan tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah dalam mendorong program sosial seperti MBG perlu diimbangi dengan strategi mitigasi risiko terhadap kestabilan harga pangan.
Oleh karena itu, para pemangku kepentingan diharapkan dapat memantau perkembangan pasar secara cermat. Hal ini penting untuk memastikan program MBG dapat berjalan efektif tanpa menimbulkan gejolak harga yang merugikan masyarakat luas.
Dikutip dari TREN.BISNISMARKET.COM, analisis ini memberikan perspektif penting mengenai potensi dampak program prioritas pemerintah terhadap kondisi ekonomi makro.