BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan melakukan penyesuaian pada kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Langkah strategis ini diperkirakan akan mulai terlihat pada paruh pertama tahun 2026 mendatang.
Kenaikan suku bunga tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di dalam negeri. Hal ini menjadi respons atas dinamika ekonomi global yang memberikan tekanan cukup signifikan terhadap posisi mata uang nasional.
Berdasarkan analisis pasar, angka suku bunga atau BI Rate diprediksi akan menyentuh level 5 persen pada periode tersebut. Fokus utama dari kebijakan ini adalah untuk memperkuat daya saing serta nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
"Bank Indonesia diprediksi akan mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada semester pertama tahun 2026," ujar pengamat ekonomi sebagaimana dikutip dari Money.
Dilansir dari Money, pergeseran fokus bank sentral saat ini memang lebih diarahkan pada penguatan nilai tukar mata uang Garuda. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan ekonomi eksternal yang cukup dinamis.
"Kebijakan moneter ini dipandang perlu untuk merespons tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus membayangi stabilitas pasar keuangan domestik," kata pihak terkait dalam keterangannya.
Meski terdapat rencana kenaikan suku bunga, otoritas moneter Indonesia tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan formal. Terdapat tahapan intervensi yang akan dilakukan terlebih dahulu untuk menyeimbangkan kondisi pasar.
"Otoritas moneter diperkirakan masih akan mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi pasar sebelum memutuskan perubahan suku bunga secara formal," ungkap narasumber tersebut.
Optimalisasi instrumen intervensi ini diharapkan mampu memberikan ruang bagi Rupiah untuk tetap stabil tanpa harus mengguncang sektor riil secara mendadak. BI terus memantau perkembangan indikator ekonomi makro baik dari sisi domestik maupun global.