BISNISMARKET.COM - Co-founder AirAsia X, Tony Fernandes, secara mengejutkan mengumumkan rencana ambisius untuk mendirikan maskapai penerbangan baru. Langkah ini diambil meskipun industri penerbangan global tengah menghadapi tantangan signifikan akibat kenaikan harga minyak dunia yang terus membayangi.
Ekspansi yang terbilang berani ini didasarkan pada keyakinan kuat bahwa strategi perluasan yang dilakukan saat krisis akan menghasilkan keuntungan besar di masa mendatang. Rencana peluncuran maskapai baru tersebut dikabarkan akan diumumkan secara resmi dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan.
Dilansir dari Business Times, grup maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Asia Tenggara ini dilaporkan sudah mulai melakukan relokasi beberapa armada pesawat untuk mendukung lini bisnis baru yang sedang dipersiapkan tersebut.
Tony Fernandes menyampaikan optimisme ini dalam sebuah wawancara video yang dilakukan dari Montreal pada hari Rabu, 06 Mei 2026. Pengusaha berusia 62 tahun tersebut menekankan pentingnya memanfaatkan peluang yang muncul di tengah ketidakpastian pasar global saat ini.
"Mengapa menyia-nyiakan krisis? Ada peluang dalam krisis. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di Timur Tengah, tetapi kita harus berpandangan bahwa hal itu tidak akan berlangsung selama dua tahun," ujar Tony Fernandes.
Langkah ekspansi ini sejalan dengan pesanan besar senilai miliaran dolar yang telah diajukan AirAsia untuk 150 unit pesawat Airbus A220. Hal ini merupakan bagian dari visi Fernandes untuk memperluas jangkauan armada menggunakan pesawat yang lebih kecil dan lincah di seluruh Asia.
Namun, strategi maskapai ini menuai sorotan tajam karena keputusan mereka untuk secara konsisten menghindari mekanisme lindung nilai (hedging) terhadap biaya bahan bakar. Kebijakan ini diduga memicu penurunan saham AirAsia sekitar 35 persen sejak konflik Iran dimulai, menjadikannya salah satu saham dengan kinerja terburuk di indeks Bloomberg World Airlines periode tersebut.
"Jelas orang yang melakukan lindung nilai sekarang sedang untung, tetapi dalam jangka waktu yang lebih lama, lindung nilai tidak pernah benar-benar berhasil. Jadi kami terus tidak melakukan lindung nilai seperti banyak maskapai Amerika dan kami merasa harga minyak cenderung turun," tegas Tony Fernandes.
Untuk membiayai ekspansi ambisius ini, AirAsia sedang mempersiapkan penjualan obligasi dengan nilai nominal hingga US$ 600 juta, setara dengan sekitar Rp 10,35 triliun. Selain itu, perusahaan juga tengah menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah bank di Malaysia untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan kembali (refinancing) dalam jumlah besar guna menekan beban biaya bunga.